Gemuruh perang yang berasal dari para prajurit Ken Arok dan laskar rakyat semakin menyeruak. Mereka telah menduduki Pakuwuan dengan membawa senjata pedang dan tombak.
Laskar rakyat yang terdiri atas kelas masyarakat, termasuk para petani, bahkan banyak yang mengobrak-abrik bangunan yang menjadi markas persembunyian tentara dan pejabat Tumapel.
Suara laskar rakyat dan pasukan Arok yang bergemuruh dan membahana itu juga menteror sejumlah tamtama yang ada di dalam padepokan karena mengiringi Kebo Ijo. Pasukan Arok dan laskar rakyat itu pun semakin merengsek ke dalam gedung Pakuwuan.
Tak lama kemudian, Ken Arok dan Ken Dedes datang ke pendopo Pakuwuan. Kedatangan Arok dan Dedes ke pendopo ini langsung disambut sorak-sorai pasukan,dan laskar pendukung Arok yang telah merangsek ke dalam.
Pada saat gegap gempita menyambut kedatangan Arok dan Paramesywari inilah, sejumlah orang Pakuwuan itu melihat Kebo Ijo keluar dari Bilik Agung dengan pedang yang berlumuran darah. Ken Arok pun bertanya kepada para tamtama yang berjaga di dalam pendopo, di mana Kebo Ijo berada.
Mendengar suara Arok dan bala pasukannya, Kebo Ijo dengan pedang yang berlumuran darah itu, langsung lari ke Taman Larangan yang ada di dekat Bilik Agung. Namun, sesampainya di Taman Larangan ini, Kebo Ijo terperangkap, ia tidak bisa melarikan diri karena seluruh penjuru sudah terkepung oleh pasukan Arok. Tentu saja, Kebo Ijo langsung tertangkap basah oleh Arok dan Dedes yang diiringi oleh sejumlah pasukan.
(Arief Setyadi )