Selanjutnya, tokohnya berasal dari lokal dan mengadopsi tradisi dan kebudayaan yang ada. Kemudian, merajut kekuatan-kekuatan lokal ini bukan dari bagian gerakan transnasional.
"Ini yang membedakan Diponegoro dengan gerakan fundamentalis. Meskipun sama-sama pakai agama, sama-sama pakai simbol ayat, tetapi spirit yang ada di dalamnya bukan untuk fundamentalisme agama, tetapi kritisisme agama, sehingga dia menjadi 'Bapak Nasionalisme Indonesia' sebelum gerakan nasionalisme yang dipelopori oleh para ex pendidikan Eropa itu," katanya.
Perang Sabil merupakan bentuk nasionalisme Diponegoro. Adapun nasionalisme itu terbentuk atas bacaannya yang luas dan menggabungkan antara khazanah Arab dan kenusantaraan. Diponegoro disebut mempelajari kitab-kitab kuning klasik, seperti Al-Ghayah wat Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja, Nasihatul Mulk karya Imam Ghazali, Muharrar karya Imam Al-Fara'i, dan Lubabul Fiqih karya Al-Mahalli, dan Tajus Salatin.
Diponegoro juga mengkaji kitab-kitab kejawaan, yakni Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa, Joyo Lengkoro Wulang, dan Bongo Suwiryo.
"Sehingga dia bisa mempertautkan antara khazanah klasik kitab-kitab kuning warisan kebudayaan Arab, pemokiran Timur Tengah dengan khazanah kenusantaraan Indonesia, dan dia rajut menjadi suatu spirit perjuangan nasionalisme," katanya.
Dengan kapasitas yang dimiliki, menjadikan Diponegoro memiliki peranan dalam menyatukan ulama, ksatria, pendeta dan seluruh lapisan masyarakat.
(Arief Setyadi )