Kisah Soedirman, dari Kepala Sekolah hingga Menjadi Jenderal Bintang Lima

Awaludin, Jurnalis
Minggu 12 November 2023 07:01 WIB
Jenderal Soedirman (foto: dok wikipedia)
Share :

JENDERAL Soedirman diangkat Presiden Soekarno sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Yogyakarta, pada 27 Juni 1947 silam. Jenderal Besar Raden Soedirman adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa revolusi nasional Indonesia. Sebagai Panglima besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama sosoknya pun sangat dihormati.

Pria yang lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916 itu merintis karier militernya di salah satu bentukan Jepang dahulu yakni Pembela Tanah Air (PETA). Disitulah ia digembleng keperwiraannya hingga menjadi satu-satunya Jenderal bintang lima di Indonesia.

Melansir dari berbagai sumber, Minggu (11/11/2023). Jenderal Soedirman disebut mempunyai kharisma dan wibawa tersendiri, kepribadiannya ini setidaknya tidak saat merintis karier di PETA dimilikinya.

Soedirman kecil diasuh dan diangkat anak Wedana (Camat) Rembang Raden Tjokrosoenarjo. Saat itulah sejak menjadi anak angkat Asisten Wedana ia kecil bisa bersekolah yang hanya bisa dinikmati anak-anak priyai Jawa yaitu Hollandsche Inlandsche School (HIS).

Sebagaimana dalam buku ‘Sang Komandan’ Karya Petrik Matanasi, setelah lulus dari HIS, Soedirman kemudian melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Yaman Siswa dan Hollandsche Indische Kweekschool (HIK) Muhammadiyah, Solo. Tetapi dia tak sampai lulus dikarenakan kendala oleh biaya.

Soedirman sangat aktif dalam berbagai kegiatan sejak duduk dibangku sekolah termasuk sebagai pengurus kepanduan Hizbul Wathan (HW) yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah.

Dahulu ia sempat menjadi Guru di Wirotomo saat berusia 20 tahun dan pernah sebagai kepala Sekolah. Ia juga pernah menjadi tokoh Pemuda Muhammadiyah dan memimpin Hizbul Wathan cabang Cilacap.

Soedirman tetap mengabdi menjadi guru dan aktif di Muhammadiyah meskipun gaji yang didapatkanya hanya 12,5 golden. Alhasil dari situlah kewibawaan dan kharismanya terbentuk.

Sejak muda ia sudah aktif di Hizbul Wathan dan menjadi kader, disitulah dirinya militansinya ditempa dan sudah mulai tertanam nilai-nulai cintah tanah air.

Namun demikian situasi berubah usai Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati 1942. Saat Jepang membuka PETA, Soedirman mulai tertarik dengan militer.

Berlatar belakang kepala sekolah, Soedirman akhirnya bisa sekolah perwira di PETA Bogor. Berkat pendidikan keras di sekolah perwira PETA di Bogor, lahirlah “Soedirman baru” yang sudah mengerti betul sejumlah metode-metode perang ala Jepang dan menjadi komandan Daidan (Batalyon) di Kroya, Cilacap.

Akan tetapi PETA dibubarkan seiring menyerahnya Jepang pada sekutu. Pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, Soedirman meleburkan dirinya ke Badan Keamanan Rakyat (BKR, cikal bakal TKR/TNI) di Banyumas dengan pangkat kolonel.

Torehan prestasi pertamanya adalah salah satu perwira tentara republik, adalah sanggup mengklaim sejumlah senjata Jepang setelah melakukan pelucutan tanpa pertumpahan darah di Banyumas. Pelucutan damai yang termasuk jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan beberapa tempat lain dengan cara kekerasan.

Kemudian nama Soedirman semakin meroket pasca-Pertempuran Ambarawa 12-15 Desember 1945. Walaupun bekas dididik di kemiliteran PETA bentukan Jepang, dia tak serta-merta selalu menggunakan taktik Jepang.

Dalam Pertempuran Ambarawa menghajar Inggris, Soedirman mengombinasikan taktik modern dengan taktik klasik Kerajaan Majapahit. Jadilah dia menggagas taktik “Supit Urang”. Taktik menekan, menjepit dan menggempur lawan dengan serentak dari berbagai sektor.

Pada 27 Juni 1947 Jenderal Soedirman diangkat Presiden Soekarno sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Yogyakarta. Sayangnya panglima muda ini tak berumur panjang. Penyakit TBC yang dideritanya tidak kunjung pulih. Pada akhirnya ia tutup usia pada 29 Januari 1950, atau lima hari setelah genap berulang tahun di usia 34.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya