Sejak muda ia sudah aktif di Hizbul Wathan dan menjadi kader, disitulah dirinya militansinya ditempa dan sudah mulai tertanam nilai-nulai cintah tanah air.
Namun demikian situasi berubah usai Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati 1942. Saat Jepang membuka PETA, Soedirman mulai tertarik dengan militer.
Berlatar belakang kepala sekolah, Soedirman akhirnya bisa sekolah perwira di PETA Bogor. Berkat pendidikan keras di sekolah perwira PETA di Bogor, lahirlah “Soedirman baru” yang sudah mengerti betul sejumlah metode-metode perang ala Jepang dan menjadi komandan Daidan (Batalyon) di Kroya, Cilacap.
Akan tetapi PETA dibubarkan seiring menyerahnya Jepang pada sekutu. Pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, Soedirman meleburkan dirinya ke Badan Keamanan Rakyat (BKR, cikal bakal TKR/TNI) di Banyumas dengan pangkat kolonel.
Torehan prestasi pertamanya adalah salah satu perwira tentara republik, adalah sanggup mengklaim sejumlah senjata Jepang setelah melakukan pelucutan tanpa pertumpahan darah di Banyumas. Pelucutan damai yang termasuk jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan beberapa tempat lain dengan cara kekerasan.
Kemudian nama Soedirman semakin meroket pasca-Pertempuran Ambarawa 12-15 Desember 1945. Walaupun bekas dididik di kemiliteran PETA bentukan Jepang, dia tak serta-merta selalu menggunakan taktik Jepang.
Dalam Pertempuran Ambarawa menghajar Inggris, Soedirman mengombinasikan taktik modern dengan taktik klasik Kerajaan Majapahit. Jadilah dia menggagas taktik “Supit Urang”. Taktik menekan, menjepit dan menggempur lawan dengan serentak dari berbagai sektor.
Pada 27 Juni 1947 Jenderal Soedirman diangkat Presiden Soekarno sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Yogyakarta. Sayangnya panglima muda ini tak berumur panjang. Penyakit TBC yang dideritanya tidak kunjung pulih. Pada akhirnya ia tutup usia pada 29 Januari 1950, atau lima hari setelah genap berulang tahun di usia 34.
(Awaludin)