Lalu Bu Tien dalam suatu acara pemeran melihat salah satu lukisan Angsa yang dibuat sangat indah oleh seniman idolanya , Basoeki Abdullah. Lalu Mantan Presiden RI, Soeharto bersama anak-anaknya lalu ingin memberikan kejutan kado spesial berupa pemberian lukisan yang dilihat dipameran tersebut sebagai hadiah ulang tahun pernikahan.
Akan tetapi sang seniman Basoeki Abdullah merubah gambar angsa menjadi burung merpati. Pemilihan hewan merpati memiliki tujuan yang menggambarkan kebebasan dan kelincahan. Lalu setelah lukisan Merpati yang diukir di atas kanvas itu lantasi ditelah dibayar lunas oleh anak-anak Soeharto.
Saat hendak diberikan Bu Tien sangat menyukainya dan memberikan kehormatan dengan memasangkannya sebagai elemen dekorasi utama rumah keluarga Cendana. Lalu saking senang dan sumringahnya Bu Tien lantas memanggil anak-anaknya untuk mengukir tanda tangan pada lukisan angsa yang telah dibuat oleh Basoeki Abdullah.
Mengetahui informasi itu lantas membuat Basoeki Abdullah sangat murka dan sempat menyampaikan rasa kekesalannya dengan menelepon Bu Tien. Namun, nomor itu tidak terhubung dan Basoeki Abdullah kesal dan menyebut keluarga Cendana vandalistik.
Akhirnya, secara diam-diam kekesalan sang seniman tersebut ternyata sampai ke teliga Mantan Presiden RI, Soeharto. Lanta 4 tahun kemudian , tepatnya 4 Juni 1991, Pak Harto turut mengundang Basoeki Abdullah membuat pameran tunggal di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai bentuk hutang terkait lukisan Merpatinya yang dianggap vandalisme.
(RIN)
(Rani Hardjanti)