Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, wilayah Koja menjadi saksi pernikahan antara warga Betawi dengan orang Portugis, yang kemudian membawa ribuan keturunan campuran pribumi dan Portugis ke Kampung Tugu, bagian dari Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
Saat itu, wilayah Tugu merupakan sebuah permukiman yang ditinggali oleh keturunan Portugis Mardijkers, yang berasal dari Maluku, Ambon, Ternate, dan sekitarnya, yang telah dibebaskan dari tawanan perang pemerintahan Hindia Belanda.
Mayoritas dari mereka turut membawa budaya, bahasa dan agama Kristen dari Portugis. Keturunan Portugis Mardijkers terkenal sebagai seniman musik dan tari dan mereka tetap mempertahankan tradisi dan identitas di Tugu hingga kini. Salah satu ciri khas mencolok dari wilayah ini adalah Gereja Tugu yang berdiri sejak tahun 1678.
Perkembangan Kecamatan Koja
Pada masa kemerdekaan Indonesia, Koja menjadi bagian dari wilayah Kota Jakarta dan berfungsi sebagai salah satu pusat kegiatan industri dan perdagangan di Jakarta Utara. Wilayah Koja mencakup bagian timur dari Pelabuhan Tanjung Priok, melibatkan Terminal Kontainer I, III, dan Terminal Kontainer Koja.
Tak hanya itu saja, Koja juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas publik dan sosial yang begitu esensial, termasuk RSUD, Stasiun Kereta Api Koja, terminal bus, hingga pusat perbelanjaan dan hiburan kekinian seperti kafe yang cocok untuk menjadi tempat hangout masyarakat setempat.
Itulah kisah sejarah dan asal usul panjang Kecamatan Koja, Jakarta Utara, yang telah berkembang menjadi wilayah perkotaan yang menjadi pusat industri dan perdagangan yang pesat.
(Awaludin)