Baginya, kebebasan beragama seperti yang telah diatur dan diakui oleh UUD 1945, harus didukung. Mahfud mengatakan menghormati hak beragama bagi pemeluk agama lainnya adalah dedikasi rakyat Indonesia kepada nilai persatuan dan kesatuan bangsa yang sesuai dengan Pancasila.
"Semua itu saya dedikasikan, dan harus kita dedikasikan demi persatuan dan kesatuan bangsa kita Indonesia," tutur Mahfud.
Di sisi lain, Mahfud menjelaskan dirinya mengagumi pemikiran Islam dan kebangsaan dari Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Tokoh Muhammadiyah, Syafi'i Ma'arif dan cendekiawan Islam, Nurcholish Madjid.
"Guru-guru saya di ponpes sejak kecil mengajarkan persatuan bangsa. Saya sudah agak bisa baca-baca literatur dan mencerna berbagai ceramah, saya sering mengikuti pandangan-pandangan Gus Dur, Syafii Ma'arif, Nurcholis Majid," ungkap Mahfud.
Mahfud mengatakan, dari guru-gurunya hingga tokoh-tokoh muslim tersebut, dirinya mempelajari konsep Islam dan Indonesia, yang saling berjalan beriringan. Dia mengatakan, tokoh-tokoh tersebut juga mengajarkannya tentang persatuan bangsa yang lazim ada di Indonesia.
"Dari mereka lah saya mendengar istilah keislaman dan keindonesiaan. Kata mereka keislaman dan keindonesiaan itu harus menyatu. Bukan berarti Islam lalu mau menjadi mendominasi terhadap Indonesia, bukan. Harus menyatu," jelas Mahfud.
Diketahui, dalam gelaran konser lilin putih tersebut terdapat Tokoh-tokoh agama yang mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Pembawa Damai. Adapun penerima penghargaan tersebut yakni Pastur Dharana Moniaga, Yenny Wahid, Peter Lesmana dan I Gede Kanjeng Raden Tumenggung Romo Asun Gotama dan Roy Wibisonl Napitupulu.
Acara tersebut pun diisi oleh sejumlah musisi ternama Tanah Air. Mulai dari Ellfonda Mekel yang dikenal dengan Once Mekel yang tercatat sebagai caleg PDI Perjuangan Dapil Jakarta II, Eka Deli, Jamaica cafe, dan Stevan Pasaribu. Ada juga tari Contemporer, Tetabuhan Nusantara, Tarian Nusantara dan choir.
(Fakhrizal Fakhri )