Purnawarman, Raja Tarumanagara yang Hadiahkan Seribu Sapi kepada Brahmana

Avirista Midaada, Jurnalis
Sabtu 06 Januari 2024 05:29 WIB
Raja Purnawarman (foto: dok Wikipedia)
Share :

PURNAWARMAN, Raja Kerajaan Tarumanagara konon pernah terkenal cukup kaya. Bahkan karena kekayaannya sang raja pernah mempersembahkan ribuan ekor sapi kepada brahmana dalam sebuah upacara keagamaan.

Kisah ini tercantum dalam Prasasti Tugu, yang menjadi peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Konon Prasasti Tugu merupakan prasasti yang terpanjang dari semua peninggalan Purnawarman. Seperti prasasti Kerajaan Tarumanagara lainnya konon prasasti ini pun berbentuk puisi anuşțubh.

Dimana tulisannya dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang secara melingkar, sebagaimana dikutip dari "Sejarah Nasional Indonesia : Zaman Kuno" tulisan Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Konon di prasasti terdapat empat hal menarik jika dibandingkan dengan prasasti-prasasti Purnawarman lainnya.

Pertama, di dalamnya disebutkan nama dua buah sungai yang terkenal di Punjab, yaitu Sungai Candrabhāga dan Gomati, yang ternyata telah menimbulkan pelbagai tafsiran para sejarawan. Kedua, walaupun tidak lengkap, prasasti ini merupakan satu-satunya prasasti Purnawarman yang menyebutkan unsur penanggalan.

Ketiga, prasasti ini menyebutkan dilakukannya upacara selamatan oleh brahmana, disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan dari sang raja. Keempat, prasasti ini menyebutkan dua buah nama lain di samping Purnawarman, sehingga setidak-tidaknya dapat dipergunakan untuk menentukan siapa sebenarnya Purnawarman.

Nama Candrabhāga juga muncul dalam Prasasti Tugu. Poerbatjaraka seroang filolog beranggapan, bahwa itu tentulah nama sungai di India yang diberikan kepada sebatang sungai di Pulau Jawa. Melalui etimologi ini sampai pada kesimpulan, bahwa nama itu sekarang dikenal dengan nama Bekasi, yang diduga sebagai pusat kerajaan Tarumanagara.

Prasasti Tugu untuk pertama kalinya menyebutkan penanggalan, yang sayang sekali tidak memuat angka tahun yang pasti, hanya menyebutkan phālguna dan caitra, yang bertepatan dengan bulan-bulan Februari-April, menurut perhitungan tarikh Masehi. Karena di Jawa Barat paling lebat turun hujan pada bulan-bulan Januari dan Februari, mungkin dapat diduga, maksud pembuatan saluran itu tentulah sedikit banyak ada hubungan dengan usaha mengatasi banjir.

Pada prasasti itu cukup tercantum perintah Purnawarman menggali saluran air dengan nama Gomati. Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, tanggal 8 paro-petang bulan Phālguna dan disudahi pada hari tanggal 13 paro-terang bulan Caitra.

Jadi konon pengerjaannya hanya 21 bulan saja, sedang galian itu panjangnya 6.122 tumbak. Sedangkan proses selamatan baginya dilakukan oleh para brahmana disertai 1.000 ekor sapi yang dihadiahkan dari Purnawarman.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya