Kisah Pendiri Kopassus Selamatkan Dua Kompi Gerilyawan dari Pengaruh PKI

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Senin 15 April 2024 05:30 WIB
Letkol Slamet Riyadi/ ist
Share :

JAKARTA - Letkol Slamet Riyadi mendapat perintah untuk bikin “insyaf” dua kompi gerilyawan dari pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat itu, pada Kamis, 23 September 1948, Slamet Riyadi dihubungi Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto yang diterima ajudannya di Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah.

Slamet Riyadi diperintah untuk menemui Kolonel Gatot di Balai Kota. “Kolonel Gatot Soebroto, mengapa memanggil saya dengan sangat mendadak?” tanya Slamet Rijadi, sebagaimana termaktub di buku ‘Ignatius Slamet Rijadi: Dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS’.

Apalagi kontak itu datang tak lama setelah sempat terjadi kesalahpahaman antara anak buahnya dengan Pasukan Siliwangi, hingga meletupkan adu mulut antara Komandan Brigade Siliwangi, Kolonel Sadikin dengan Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman.

Sedikit menengok ke belakang soal peristiwa itu, Kolonel Sadikin sampai geram dengan tanggapan Pangsar Soedirman yang mengatakan, “Slamet Riyadi adalah anak saya!”. Dijawab Kolonel Sadikin, “Lalu saya anak siapa, Jenderal?”.

Meski peristiwa itu sedikitnya sudah clear, Slamet Riyadi masih merasa cemas ketika diharuskan bertemu Kolonel Gatot. Dia pun menitip pesan pada anak buahnya, bahwa jika pada pukul empat sore dia belum kembali ke markasnya, pasukannya diperintah mencarinya ke Balai Kota Solo.

Namun pertemuan Kolonel Gatot dengan Slamet Riyadi yang juga mempelopori berdirinya Kopassus ini bukan membahas peristiwa dengan Pasukan Siliwangi itu, melainkan soal perintah Pangsar Soedirman untuk menyelesaikan Madiun Affair atau yang kini disebut Pemberontakan PKI Madiun 1948.

“Sekitar dua kompi anak buah Mayor Soedigdo menurut laporan sudah terinfiltrasi merah (PKI/Front Demokrasi Rakyat atau FDR) dan akan segera menyeberang ke Madiun. Kembalikan mereka ke pangkuan Ibu Pertiwi!” begitu perintah Kolonel Gatot.

Dia segera melakoni tugas itu untuk ke markas Batalion Soedigdo di Wonogiri, bersama Kapten Soetanto Wirjosapoetro, Kapten Ari Amangku dan Kapten Tjokropranolo (Noly) dengan meminjam mobil Komandan Polisi Tentara, Kolonel Soenarjo.

Misi ke Wonogiri pun perjalanannya relatif lancar, meski waktu itu mereka juga sangat waspada jika melewati berbagai pos penjagaan. Karena–sekali lagi, mereka tak tahu siapa lawan, siapa kawan.

Sesampainya di Wonogiri, rombongan Slamet Riyadi segera mencegat pergerakan pasukan Soedigdo di wilayah Tirtomoyo, kota kecil yang berada di tengah-tengah Wonogiri dan Madiun. Seketika bersua, Soedigdo dan anak buahnya pun ternyata mau diajak kembali.

Mereka pun akhirnya dibawa ke Paras, Boyolali, tepatnya di lereng Gunung Merbabu, demi menjauhkan mereka dari FDR Madiun. Di tempat itu pula, Kolonel Gatot Soebroto kemudian melakukan inspeksi.

Sebuah upaya yang sukses untuk mencegah dua kompi petarung yang nyaris ikut memperkuat PKI/FDR di Madiun. Di satu sisi, keberhasilan Slamet Rijadi ini juga membuktikan keyakinan Gatot Soebroto, bahwa jiwa Slamet Riyadi masih ‘Merah Putih’.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya