Doa bersama dipanjatkan agar bayi yang baru lahir diberi umur panjang, kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang berlimpah. Atas saran dari tetua kampung, bayi laki-laki itu diberi nama Soeharto.
Saat bayi tersebut lahir, tidak ada tanda-tanda khusus di langit. Tidak ada letusan gunung berapi dan tidak ada ramalan tentang seorang "Putera Fajar."
"Kelahiran Soeharto tidak berbeda dengan kelahiran anak-anak lainnya di kampung itu, dengan orang tua yang miskin namun berbesar hati," kata O.G Roeder.
Harapan Pak Kerto atas kelahiran anak laki-laki ini sederhana. Ia membayangkan anaknya kelak dapat membantunya di sawah dan, dengan kehendak Tuhan, dapat mewarisi pekerjaannya sebagai ulu-ulu.
Namun, Tuhan berkehendak lain. Bayi laki-laki bernama Soeharto yang lahir tiga tahun setelah Perang Dunia Pertama dan di tengah krisis ekonomi ini, kelak menjadi Presiden Republik Indonesia yang kedua.
Soeharto menjabat sebagai Presiden RI selama 32 tahun, dimulai pada 12 Maret 1967 dan berakhir dengan pengunduran dirinya setelah gelombang demonstrasi pada 21 Mei 1998. Soeharto meninggal dunia pada 27 Januari 2008, di usia 86 tahun.
(Salman Mardira)