Dari kelompok responden yang memilih figur karena belum tahu kandidat lain, sebagian besar memilih Raffi Ahmad dengan besaran 46,3%; Dico Ganundito 22,7%; Kaesang 25,2%; Ahmad Luthfi 23,3%; Gus Yasin 9,8%; dan Bambang Wuryanto sebesar 5,8%.
Kemudian, ada 9,6% responden beralasan karena figur yang dipilih berasal dari keluarga tokoh politik/masyarakat. Dari jumlah itu, sebanyak 34,5% responden memilih Kaesang; 1,7% Ahmad Luthfi; 3,8% Gus Yasin; 5,3% Bambang Pacul; dan 5,6% Dico Ganundito.
"Alasan lain, 9,6% memilih karena faktor yang bersangkutan berasal dari tokoh politik, mayoritas memilih Kaesang. Artinya, tanpa mengurangi rasa hormat ke Mas Kaesang sebagai Ketum PSI dan sudah masuk ke karir politiknya beberapa waktu terakhir, tetapi masyarakat memilih Mas Kaesang tidak jauh asosianya dengan Bapaknya, jadi berasal dari keluarga tokoh politik," kata Burhanuddin.
"Jadi ini menunjukan sekali lagi faktor Jokowi menjelaskan sangat kuat mengapa Kaesang sementara ini unggul di Jawa Tengah meskipun secara statistik tidak beda dengan Ahmad Luthfi," imbuhnya.
Lebih lanjut, Burhanuddin menjelaskan sejumlah faktor elektabilitas Kaesang unggul dibanding figur lainnya. Menurutnya, tingginya elektabilitas Kaesang didasari atas tingginya popularitas putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu.
"Faktor popularitas ini krusial, apa yang menjelaskan mengapa Kaesang sementara ini unggul? Itu karena popularitas Kaesang sangat tinggi, hampir 85%," ucap Burhanuddin.
"Nah hanya satu nama yang menandingi keterkenalan Kaesang di Jateng, namanya Raffi Ahmad. Wajar karena Raffi Ahmad ini artis, kalau tiap puasa dari sebelum sahur sampai mau tidur ada dia terus hehehe," imbuhnya.
Dari data yang dipaparkan, tingkat popularitas Kaesang sebesar 84,8%. Hal itu menempati Kaesang berada di urutan kedua. Sementara Raffi Ahmad, tingkat popularitasnya sebesar 85,5%.
"Tetapi kenapa Raffi popularitas tinggi elektabilitas rendah? Mungkin karena Raffi dianggap tidak pas menjadi calon kepala daerah, karena dia brandingnya selama ini sebagai artis," ucap Burhanuddin.
Sekedar informasi, Indikator menggelar jejak pendapat ini pada 10-17 Juni 2024. Populasi survei ini merupakan seluruh WNI yang berumur minimal 17 tahun. Penarikan sampel dilakukan dengan metode multistage random sampling.
Survei ini menggunakan metode wawancara tatap muka. Sementara, survei ini melibatkan 800 sampel. Adapun, margin of error atau toleransi kesalahan dalam survei ini sebesar 3,5 persen dengan tingkat kepercayaan 95%.
(Khafid Mardiyansyah)