Respons pengunjung terhadap simulasi Alquran Isyarat di Mesir terbilang positif. Sejumlah doktor dan ahli bahasa isyarat dari Mesir tertarik berdiskusi lebih lanjut dan telah terhubung langsung dengan Ida Zulfiya Choiruddin sebagai inisiator.
“Teman Tuli di Mesir merasa senang mengetahui adanya perhatian berupa media yang memungkinkan mereka membaca Alquran dengan tartil,” tandasnya.
Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Lubenah, menambahkan, mushaf Alquran dengan bahasa isyarat merupakan salah satu fitur paling ikonik di paviliun Indonesia. Fitur ini memungkinkan pengunjung dari berbagai negara menyaksikan langsung demonstrasi penggunaan Alquran bagi komunitas tuli.
“Banyak pengunjung yang tertarik mempelajari Alquran bahasa isyarat. Ini menjadi bukti bahwa Islam Indonesia memiliki kepedulian kuat terhadap inklusivitas,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )