JAKARTA - Polri merespons demonstrasi yang terjadi akibat oknum anggota Brimob Bripda Masias Siahaya melakukan penganiayaan terhadap siswa MTsN Arianto Tawakal (14) hingga tewas. Polri menegaskan terbuka terhadap segala kritik yang diberikan.
Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Johnny Eddizon Isir menegaskan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berkomitmen akan menindak tegas setiap anggota yang melakukan pelanggaran etik ataupun pidana.
“Terkait dengan insiden di Tual yang kemudian menjadi trigger, kami bisa memahami perasaan kecewa, perasaan marah dari masyarakat,” kata Johnny kepada wartawan, Rabu (25/2/2026).
“Kapolri sudah berkomitmen tegas, pimpinan Polri pada setiap jenjangnya sudah berkomitmen tegas jika ada tindakan perbuatan sikap perilaku dari setiap individu Polri yang kemudian menciderai tentunya nilai-nilai kode etik kami, terlebih harapan daripada masyarakat, kepercayaan daripada masyarakat, kita akan tindak tegas,” sambung dia.
Johnny mengajak masyarakat mengawal penegakan hukum terhadap oknum Brimob tersebut. Dia mengatakan putusan sidang etik yang menjatuhkan sanksi pemberhentian tidak dengan hormat terhadap MS merupakan bentuk keseriusan Polri.
“Penyampaian pendapat hal yang biasa dan kami sangat menghormati itu ya. Tentunya itu bagian daripada mekanisme kontrol kepada Polri sebagai institusi publik, institusi sipil yang terbuka,” ujar dia.
Sementara itu, ia juga merespons terkait adanya usulan untuk dari sejumlah kelompok masyarakat seperti ICJR dan YLBHI untuk menarik Brimob dari tugas pengamanan sipil.
“Polri sebagai institusi yang terbuka berterima kasih dan mengapresiasi setiap masukan. Benar ada kelemahan, iya kami akui. Kami sedang melaksanakan evaluasi,” ungkapnya.
Johnny menjelaskan, Brimob dikerahkan untuk mem-backup satuan kewilayahan yang masih krusial. Dia mengatakan karakteristik geografis dan sosial Indonesia sangat beragam.
“Khususnya seperti kami ketika bertugas di wilayah timur Indonesia, ini adalah hal yang sangat membantu," pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )