JAKARTA – Pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, pada Rabu (4/2/2026) mengklaim bahwa lebih dari 500 tentara Amerika Serikat (AS) telah tewas dalam perang yang berlangsung selama lima hari, sejak dimulai pada Sabtu (28/2/2026)
“Sekarang dia harus menghitung — dengan lebih dari 500 tentara Amerika tewas hanya dalam beberapa hari terakhir, apakah Amerika masih diutamakan atau Israel,” tulisnya, sebagaimana dilansir TRT.
Pentagon hanya mengumumkan kematian enam tentara AS sejak Sabtu, empat di antaranya di Kuwait.
Larijani, yang sebelumnya menjabat sebagai penasihat senior Khamenei dan saat ini memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, memperingatkan dalam pesan samar bahwa “kisah ini berlanjut.”
“Kemartiran Imam Khamenei akan menuntut harga yang mahal dari kalian. Insya Allah,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya intensitas pertempuran antara Iran dan Amerika Serikat.
Perang dimulai dengan serangan gabungan Amerika-Israel terhadap Iran pada Sabtu, yang menyebabkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama beberapa komandan militer berpangkat tinggi yang menjabat setelah pendahulu mereka tewas oleh Israel dalam perang Juni 2025.
Hampir 1.050 warga Iran telah tewas dalam empat hari pertempuran sejauh ini, menurut perkiraan pemerintah, termasuk 165 anak sekolah di Kota Minab, Iran selatan, yang memicu kemarahan luas.
Khamenei menjadi sasaran di kediamannya di pusat kota Teheran bersama anggota keluarganya, termasuk istri, putri, menantu perempuan, menantu laki-laki, dan cucu-cucunya.
Kepemimpinan Iran telah bersumpah akan membalas dendam atas kematian Khamenei, meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta pangkalan militer Amerika di seluruh Timur Tengah.
Dalam sebuah pernyataan pada Senin (2/3/2026), Larijani mengatakan Iran telah “mempersiapkan diri untuk perang yang panjang.”
Ia juga menolak tawaran negosiasi dengan AS seperti yang diusulkan oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al Busaidi, yang sebelumnya menjadi mediator dalam pembicaraan nuklir tidak langsung antara kedua pihak sebelum perang pecah.
(Rahman Asmardika)