JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) menyoroti pembentukan karakter santri sebagai fondasi penting bagi masa depan bangsa. Pendidikan pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak dan penghormatan terhadap sesama.
Kemenag terus mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang ramah bagi santri. Program pesantren ramah anak menjadi salah satu langkah untuk memastikan pendidikan berlangsung dalam suasana yang aman dan penuh kasih.
“Sering muncul kasus kekerasan yang disebut sebagai kasus pesantren, padahal tidak semuanya terjadi di pesantren,” ujar Direktur Pesantren Kemenag Basnang Said, saat menghadiri Takjil Pesantren, di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dikutip ,Minggu (15/3/2026).
Dia mengungkapkan, bahwa kegiatan Takjil Pesantren merupakan bagian dari upaya menyapa santri di berbagai daerah.
Program ini diharapkan dapat memperkuat silaturahmi sekaligus menyerap aspirasi pesantren di berbagai daerah dalam upaya memperkuat karakter santri inspiratif.
“Karena itu kami memiliki program pesantren ramah anak agar santri menjadi anak-anak yang disayangi di lingkungan pesantren,” pungkasnya.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Agama Farid F. Saenong mengajak para santri mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa dalam Alquran.
Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan pentingnya ketekunan dalam menuntut ilmu dan kerendahan hati di hadapan Allah.
“Dalam Surat Taha ada rekaman pertanyaan Allah kepada Nabi Musa: ‘Apa yang ada di tangan kananmu wahai Musa?’ Nabi Musa menjawab bahwa itu adalah tongkat,”ujarnya
“Para ulama menjelaskan percakapan itu menunjukkan nikmatnya berdialog dengan Allah sekaligus menggambarkan kegigihan Nabi Musa dalam menuntut ilmu,” lanjut Farid Saenong.
Dia juga menekankan pentingnya kebersamaan antara santri dan para kiai dalam proses pembelajaran. Kedekatan dengan guru, menurutnya, menjadi bagian penting dalam pembentukan kepribadian santri.
“Ketika bersama orang tua dan kiai, meskipun tidak ada bahan untuk dibicarakan tidak masalah, yang penting bisa berkumpul bersama. Jangan ragu untuk membantu dan menjadi asisten kiai,” tegasnya.
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menambahkan, pesantren memiliki peran penting dalam membangun akhlak generasi bangsa.
Dia menilai, pembinaan karakter tersebut hanya dapat dilakukan secara optimal melalui sistem pendidikan pesantren yang berlangsung sepanjang waktu.
“Misi suci akhlakul karimah adalah misi kenabian. Jadi, nilai ini ditanamkan secara kuat dalam kehidupan pondok pesantren,” ucap Suyitno.
Suyitno menerangkan, sistem pendidikan pesantren memungkinkan pembinaan karakter berlangsung secara menyeluruh. Interaksi antara kiai, santri, asrama, dan masjid menciptakan lingkungan pendidikan yang berlangsung selama 24 jam.
“Pesantren merupakan pendidikan yang genuine di Indonesia. Pembinaan akhlak dan spiritual di pesantren berlangsung sepanjang waktu dan menjadi modal sosial intelektual bagi masa depan,”pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )