Dewi menyebut, perwakilan TNI AL sempat menemui pihak keluarga dan sekolah serta menyampaikan permintaan maaf. Mereka juga menyatakan akan bertanggung jawab atas proses penyembuhan korban.
“Pihak kesatuan menyampaikan akan bertanggung jawab penuh atas penyembuhan dan pemulihan korban,” ujarnya.
Namun, Dewi mengaku sempat diminta menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dan tidak menyebarluaskan kejadian tersebut.
Ia juga menceritakan adanya perdebatan terkait fasilitas perawatan saat anaknya hendak menjalani operasi, yang disebut sempat membuat tindakan medis tertunda.
Selain itu, Dewi menyebut ada permintaan dari oknum agar peluru yang diangkat dari tubuh anaknya diserahkan kepada pihak kesatuan. Ia menolak karena menganggap peluru tersebut merupakan barang bukti.
“Saya meminta peluru tetap berada di rumah sakit sampai masalah ini jelas,” katanya.
Terpisah, Perwira Hukum Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir, Ahmad Fauzi, menyampaikan empati atas kejadian tersebut.
“Kami turut prihatin atas musibah yang menimpa dua siswa di Gresik dan menyampaikan simpati kepada para korban,” ujarnya.
Ia menegaskan, pihaknya telah melakukan koordinasi dan pendalaman di lokasi kejadian serta memastikan korban mendapatkan penanganan medis.
“Namun hingga saat ini belum dapat dipastikan bahwa peluru tersebut berasal dari Korps Marinir. Hal ini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut,” katanya.
(Awaludin)