Paus Leo memimpin kebaktian doa malam pada Sabtu (11/4/2026) di Basilika Santo Petrus, pada hari yang sama ketika Amerika Serikat dan Iran memulai negosiasi tatap muka di Pakistan selama gencatan senjata yang rapuh. Paus tidak menyebut Amerika Serikat atau Trump secara langsung, tetapi nada dan pesannya tampaknya ditujukan kepada Trump dan para pejabat AS, yang telah membual tentang keunggulan militer AS dan membenarkan perang tersebut dengan alasan keagamaan.
Pemimpin umat Katolik dunia itu sebelumnya mengatakan bahwa Tuhan "tidak mendengarkan doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya". Ia juga merujuk pada sebuah bagian Perjanjian Lama dari Yesaya, yang mengatakan bahwa "sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan — tanganmu penuh dengan darah."
Sebelum gencatan senjata, ketika Trump memperingatkan akan adanya serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur Iran, serta mengatakan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini,” Paus Leo menggambarkan sentimen tersebut sebagai “benar-benar tidak dapat diterima.”
Dalam unggahannya pada Minggu (12/4/2026), Trump tak hanya mengkritik Paus Leo terkait perang di Iran.
“Saya tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap mengerikan bahwa Amerika menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan sejumlah besar narkoba ke Amerika Serikat,” tulisnya.
“Saya tidak menginginkan seorang Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat karena saya melakukan persis apa yang saya dipilih, dengan kemenangan telak,” tambah Trump, merujuk pada kemenangan pemilu 2024-nya.