Karena itu, persoalan ini semestinya tidak berhenti pada jatuhnya satu atau dua figur semata. Yang lebih penting adalah membangun budaya kritis di lingkungan pendidikan keagamaan seperti memastikan tokoh atau tokoh spiritual tetap berada dalam mekanisme kontrol sosial dan hukum yang sehat.
Sebab tanpa itu, pesantren atau apapun nama lembaga keagamaannya, yang seharusnya menjadi ruang pendidikan moral justru berpotensi berubah menjadi ruang gelap yang menakutkan bagi para santri(wati).
Thus, sebagai Santri Jalanan saya selalu menekankan dalam setiap khutbah atau ceramah pada umat untuk IQRO' dalam pengertian yang menyeluruh yakni membangun budaya literasi (kritis) tanpa perlu kehilangan akar atau adat khas kita. Allahualam bisshowab.
(Fahmi Firdaus )