JAKARTA - Soekarno dan Mohammad Hatta merupakan sahabat dekat yang memiliki hubungan terat. Persahabatan kedua tokoh perjuangan Indonesia itu terlihat dari momen-momen terakhir hidup Bung Karno.
Pada Februari 1970, kondisi Bung Karno yang telah menjadi tahanan politik, semakin parah karena penyakit ginjal yang dideritanya. Dia dirawat di Wisma Yaso setelah putrinya Rachmawati memohon untuk memindahkan Sang Ayah dari Istana Bogor.
Di Wisma Yaso, Bung Karno tergolek lemah di sebuah ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden.
Mendengar kabar tentang kondisi Soekarno, Hatta pun berbicara kepada istrinya Rachmi. Sambil menangis, Hatta mengatakan bahwa dia bermaksud menemui Bung Karno. Namun, keinginan Hatta itu ditolak sang istri, yang mengatakan bahwa Bung Karno saat itu telah menjadi tahanan politik dan tidak dapat ditemui.
"Soekarno adalah orang terpenting dalam pikiranku. Ia sahabatku. Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kami, itu lumrah. Tapi aku tak tahan mendengar Sukarno disakiti seperti ini,” tegas Hatta seperti dikutip pada buku Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik, Jumat (15/5/2026).
Hatta kemudian menulis surat kepada Soeharto menyampaikan keinginan untuk bertemu dengan Soekarno. Uniknya, surat itu langsung disetujui oleh Soeharto dan Hatta diperbolehkan Bung Karno.
Saat Hatta datang ke kamar perawatan, Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit. Dia menghampiri pembaringan Bung Karno dengan hati-hati, tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.
Menyadari kehadiran Hatta, Soekarno pun membuka matanya dengan menahan sakit dan menyapanya. Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar, karena tidak ingin sahabatnya itu tahu bahwa dia sedang bersedih.
Sambil sedikit tersenyum menghibur Hatta hanya bisa menjawab dengan menanyakan kondisi Soekarno. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno.
Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno. Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Dia menangis di depan kawan seperjuangannya.
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi.
Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai.
Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.
(Fahmi Firdaus )