Indonesia Terancam El Nino Kuat, BMKG Gencar Operasi Modifikasi Cuaca Isi 240 Bendungan

Binti Mufarida, Jurnalis
Selasa 04 Agustus 2026 12:36 WIB
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani/Okezone
Share :

JAKARTA -  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggencarkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi menghadapi ancaman El Nino. Salah satu fokus utama menjaga ketersediaan air di 240 bendungan yang mengalami kekeringan agar pasokan air baku, irigasi, hingga pembangkit listrik tetap terjaga.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, sejak BMKG memprediksi kemarau yang bertepatan dengan El Nino pada Maret, berbagai langkah antisipasi telah dilakukan bersama kementerian dan lembaga terkait.

“Kita perlu mempersiapkan diri, sehingga kita telah melaksanakan beberapa kali apel siaga di Riau, di Kalimantan Barat, lalu minggu lalu di Kalimantan Tengah kemarin lusa, mempersiapkan menghadapi kebakaran hutan dan lahan,” kata Faisal dalam Dialog Nasional - Memperkuat Respons Lintas Sektor Dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat, Selasa (4/8/2026).

“Juga dengan kementerian PUPR, kita telah berkoordinasi dalam rangka dapat mengisi bendungan-bendungan yang saat ini mengalami kekeringan,”lanjutnya.

Dampak El Nino tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian, tetapi juga mengancam ketersediaan sumber daya air. Karena itu, BMKG bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan cadangan air di bendungan yang mulai mengalami kekeringan.

“Pertanyaannya mengapa kita harus bertindak sekarang? Karena El Nino ini menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang, musim hujan datangnya lebih lambat, dan curah hujannya menurun serta suhu udara meningkat. Untuk suhu udara meningkat ini masih akan terjadi di tahun 2024. Suhu udaranya masih akan meningkat karena bumi merespons dengan lebih lambat ya,” kata Faisal.

“Nah kemudian untuk sektor pangan risikonya penurunan produksi dan gangguan kalender tanam. Untuk sektor sumber daya air, ketersediaan air baku menurun, kapasitas waduk berkurang dan jaringan irigasi terganggu. Ini kita sudah saat ini sedang melakukan operasi modifikasi cuaca untuk pengisian waduk-waduk di Pulau Jawa,”ujarnya.

 

“Koordinasi antara deputi modifikasi cuaca kita ini, Pak Deputinya hadir coba berdiri Pak, ini Pak Doktor Seto. Yang sudah langsung berkoordinasi dengan Dirjen Sumber Daya Air untuk mengisi 240 bendungan di Indonesia. Bukan semuanya, tapi yang mengalami kekeringan yang paling parah,” lanjut dia.

Selain menjaga ketersediaan air di bendungan, Faisal mengatakan bahwa operasi modifikasi cuaca juga dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut Faisal, pendekatan penanganan karhutla kini lebih mengedepankan langkah preventif dibandingkan hanya melakukan pemadaman setelah kebakaran terjadi.

“Di sini perlu kami sampaikan bahwa sejak tahun 2015 kita menerapkan paradigma yang berbeda dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Kalau dulu kita hanya menunggu terbakar kemudian kita padamkan, tapi sekarang kita coba sebelum terbakar,"ujarnya.

 

"Kementerian Lingkungan Hidup memiliki data fluktuasi muka air di gambut. Kurang dari 1 meter, maka BMKG bekerjasama dengan BNPB itu melakukan operasi modifikasi cuaca Pak ya, untuk menaikkan muka air, menjenuhkan tanah sehingga lebih sulit untuk terbakar,” katanya.

Dia menambahkan, operasi modifikasi cuaca juga memiliki manfaat lain dalam menjaga ketahanan sumber daya air dan mendukung upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

“Dengan PLN dan ESDM juga kita menjaga ketahanan energi dan juga instrumen tadi yang saya sampaikan terkait dengan operasi modifikasi cuaca itu kita manfaatkan untuk menjaga ketersediaan air, air waduk, dan juga untuk mendukung air baku, mengurangi risiko kekeringan serta membantu pemadaman aktif kebakaran hutan dan lahan. Jadi intinya fondasi dari ini semua adalah koordinasi dari semua pihak,” pungkasnya.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya