"Paket Istana" versus Kiai Sepuh, Jelang Muktamar ke-35: Pertempuran Baru Ipul Lawan Yahya

Opini, Jurnalis
Minggu 23 Agustus 2026 09:33 WIB
M Sholeh Basyari,  Doktor Islamic Studies UIN Jogja
Share :

Masuknya KMA ke kubu Yahya, tidak saja sekedar darah seger. Memori publik NU tentang KMA adalah tokoh yang kehadirannya selalu menjadi penyelamat sekaligus indikator kemenangan. Coba kita me-refresh memori tentang Muktamar PKB di Bali (Agustus 2024).

Kala itu, Muhaimin Iskandar, nyaris lempar "handuk putih".  Karena Jokowi telah menunjuk Dwi Tunggal: Ketua Umum PBNU dan Sekjen Ipul, sebagai panglima dan jenderal lapangan pengambilalihan PKB. Rencana itu gagal total,  sebab diujung skenario, KMA memotong dan memveto operasi terbuka tersebut.

Sementara, kubu Ipul baru saja "kehilangan" Miftahul Akhyar. Kyai yang belakangan dipersoalkan hartanya yang melonjak itu, kabarnya tidak disebut-sebut dalam rapat yang menghasilkan "paket istana". Seperti keyakinan publik, Ipul yang merekayasa seakan-akan paket itu ada.

Tetapi harus dipahami, justru karena istana tidak merasa perlu untuk menggunakan jasa Miftahul Akhyar, Ipul bergegas mengubah strategi dengan nebeng pada Gus kikin.

Presiden Prabowo Tidak Pasang Orang

Sementara, terkait kebenaran presiden Prabowo telah menunjuk Gus kikin sebagai kandidat ketua umum PBNU yang didukung, sejatinya hanya sebatas hasil analisis.

Kata "saja" menjadi penting, sebab memang tidak ada bahasan tentang figur dan komposisi kepengurusan PBNU lainnya yang dibahas dalam pertemuan di seputar istana itu, selain tentang ketua umum PBNU. Lagi-lagi penyebutan paket istana adalah kreativitas dan rekayasa Ipul.

Padahal dengan penyebutan "paket istana" yang didesain Ipul, menjadi beban bagi elektabilitas Gus kikin. Kenapa? Karena resistensi terhadap  Ipul, sangat kuat di mana-mana.

Menurut tim pemenangan Gus kikin,  Fauzi Thalib, yang dilakukan KMA adalah sebentuk manuver balasan. Thalib sejauh ini juga tidak secara meyakinkan menyebut bahwa presiden Prabowo menyodorkan Gus kikin.

Tetapi dengan nada menganalisis, Thalib menyebut bahwa 'PKB kurang apalagi? Kursi perlemen terbanyak sepanjang sejarah, telah didapat. Juga (orang-orang PKB), mendakat posisi menteri dan Wamen serta sejumlah posisi lain badan dan lembaga negara.

Tokoh-tokoh elit NU semua juga sudah mendapat bagian yang layak,. Bahkan tambang milik NU juga dibantu segera jalan". Sudahkah biar Garuda yang lima tahun kedepan pegang Kramat Raya. Kata Thalib.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya