Umumkan Sanksi Baru, AS Ancam Depak Mitra Dagang Iran dari Sistem Dolar

Rahman Asmardika, Jurnalis
Selasa 25 Agustus 2026 09:07 WIB
Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Share :

Bessent menolak membeberkan rincian lebih lanjut; ia mengatakan kepada para wartawan bahwa pihaknya "tidak akan menyebutkan nama pihak tertentu" ataupun "menetapkan tenggat waktu." Saat didesak mengenai apakah Washington mengharapkan China—mitra dagang terbesar Iran—untuk mematuhi rezim sanksi tersebut, Bessent tidak memberikan jawaban yang tegas.

"Menurut kami, cara terbaik untuk berinteraksi dengan negara-negara lain adalah melalui diplomasi senyap. Kami menyamakan persepsi dengan setiap negara untuk menyampaikan harapan kami. Kami tahu siapa mereka. Mereka pun tahu siapa diri mereka," jawabnya, seraya menambahkan bahwa "tidak ada pihak yang kebal terhadap jangkauan sanksi AS."

Ancaman Bessent ditanggapi dengan sikap acuh tak acuh di Teheran. "Pihak Amerika tahu bahwa tidak ada yang memercayai gertakan mereka," tulis negosiator senior Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, di platform X setelah konferensi pers Menteri Keuangan tersebut.

"Amerika Serikat tidak berada dalam posisi ekonomi yang memungkinkan mereka untuk semakin membatasi hubungan dengan negara-negara lain," jelasnya. "Mitra-mitra dagang Iran—baik melalui pemberitaan media maupun pesan yang disampaikan langsung kepada kami—telah menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak menganggap serius pernyataan-pernyataan tersebut."

Mohsen Rezaei, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, pada Minggu (23/8/2026) memperingatkan bahwa "tidak akan ada satu tetes minyak pun yang keluar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz" jika negara-negara Teluk turut serta dalam kampanye tekanan ekonomi AS. Rezaei menambahkan, jika Presiden AS Donald Trump "hendak melakukan sesuatu, kami akan membalas dengan dampak yang sangat dahsyat."

Pekan lalu, Trump mengancam akan melancarkan apa yang disebutnya sebagai "D-Day Ekonomi" terhadap Iran, setelah tenggat waktu 60 hari untuk negosiasi perdamaian dengan Teheran berakhir tanpa adanya terobosan. Trump menutup kemungkinan untuk kembali bernegosiasi, namun Kepala Angkatan Bersenjata Pakistan, Asim Munir, tiba di Teheran pada hari Senin dalam upaya untuk menghidupkan kembali perundingan tersebut.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya