JAKARTA - Kecerdasan buatan (AI) berkembang begitu pesat dan mulai memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Namun, di tengah euforia perkembangan teknologi tersebut, muncul pertanyaan besar mengenai dampaknya terhadap masa depan manusia.
Apakah AI akan membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik, atau justru membuat manusia kehilangan sesuatu yang paling mendasar dari dirinya?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam World Encounter Summit 2026 yang mempertemukan pemimpin pemerintah, pemuda, akademisi, tokoh agama, perusahaan teknologi, hingga masyarakat sipil dari berbagai negara di Bali.
Rangkaian forum diawali melalui Bali Harmony Dialogue, pada Kamis 3 September 2026 di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Para peserta dari lima benua membahas dampak AI terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.
Salah satu perhatian utama dalam pembahasan tersebut adalah kesenjangan dalam perkembangan AI. Tidak semua negara memiliki akses yang sama terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, maupun kemampuan untuk mengatur teknologi tersebut.
Karena itu, pemerataan manfaat AI dinilai bukan semata-mata persoalan teknologi, melainkan juga menyangkut keadilan sosial, ekonomi, moral, dan lingkungan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI, Luhut B. Pandjaitan mengatakan, Indonesia harus membangun kapasitas sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi.
"Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM," ujar Luhut, Sabtu (5/9/2026).
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid menegaskan, tingginya penggunaan AI oleh generasi muda Indonesia harus diikuti dengan penguatan riset, talenta, infrastruktur, dan kebijakan.
"Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional," ujar Meutya.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk AI dari negara lain.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado mengingatkan bahwa pertanyaan terbesar di era AI bukan hanya mengenai apa yang mampu dilakukan oleh mesin.
Menurut dia, dunia juga harus menentukan manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama teknologi tersebut.
Pembahasan di Bali itu menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak cukup hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang mampu diciptakan. Lebih jauh, dunia perlu memastikan teknologi tersebut berkembang secara adil sekaligus tetap menempatkan manusia sebagai pusat dari kemajuan.
(Awaludin)