Pengeboran di Lokasi yang Diduga Bahtera Nuh Ungkap Struktur Misterius di Bawah Tanah

Rahman Asmardika, Jurnalis
Selasa 29 September 2026 02:05 WIB
Situs Formasi Drupinar dilihat dari udara tampak menyerupai bentuk bahtera.
Share :

JAKARTA — Para peneliti telah mulai melakukan pengeboran dan pemindaian di situs arkeologi Formasi Durupınar di Turki timur, lokasi yang diyakini sebagian pihak sebagai tempat peristirahatan terakhir Bahtera Nuh. Pengeboran ini merupakan bagian dari ekspedisi Noah's Ark Scans, yang bertujuan menyelidiki apa yang terkubur di bawah permukaan lokasi di dekat Gunung Ararat yang menjadi perdebatan tersebut.

Pemindaian terbaru mendeteksi adanya bentuk-bentuk yang tampak seperti garis lurus, persimpangan bersudut siku-siku, dan ruang-ruang cukup luas di bawah formasi tersebut. Sementara itu, kegiatan pengeboran berhasil mengangkat lapisan material organik serta menemukan lapisan bawah tanah yang sangat keras—yang kabarnya bahkan sampai mematahkan mata bor.

Tim peneliti bahkan mengklaim bahwa hasil kerja terbaru ini telah "mengonfirmasi 100 persen" bahwa formasi tersebut merupakan buatan manusia. Meski begitu, tidak dapat dipastikan bahwa formasi ini merupakan Bahtera Nuh yang termasyhur dan disebutkan dalam kitab suci.

Apa yang Telah Ditemukan di Formasi Durupınar?

Penyelidikan sedang berlangsung di Formasi Durupınar, sekitar 32 km di sebelah selatan Gunung Ararat. Lokasi ini telah menarik minat para pencari Bahtera Nuh selama beberapa dekade karena bentuk luarnya sangat mirip dengan kapal jika dilihat dari atas.

Objek ini pertama kali teridentifikasi melalui foto udara pada 1959 dan memiliki panjang sekitar 157 meter. Para peneliti telah berulang kali memperdebatkan apakah bentuk yang tidak biasa itu merupakan sisa-sisa sebuah kapal atau sekadar hasil dari proses geologis alami.

Tahun ini, para peneliti melakukan penyelidikan ke tahap yang lebih lanjut.

Radar Mengungkap Struktur Misterius

Dilansir Euro Weekly News, sebuah tim internasional yang dipimpin oleh arkeolog Profesor Cenker Atila dari Universitas Sivas Cumhuriyet telah melakukan penelitian geologis dan arkeologis menggunakan radar penembus tanah (ground-penetrating radar), tomografi resistivitas listrik, LiDAR, dan pengeboran inti. Proyek ini telah mendapatkan persetujuan resmi dari pihak berwenang Turki.

 

Survei radar telah menghasilkan beberapa temuan yang paling menarik sejauh ini. Para peneliti menyatakan telah mengidentifikasi fitur-fitur yang tampaknya membentuk kemungkinan koridor, ruangan, dan terowongan di bawah permukaan tanah. Salah satu kelompok anomali tampak membentang sepanjang sekitar 151 kaki (sekitar 46 meter), dengan ketinggian rata-rata lebih dari 14 kaki (sekitar 4,3 meter).

Area lain yang terdeteksi oleh radar dilaporkan memiliki ketinggian sekitar 26, 39, dan 23 kaki. Terdapat pula bagian yang sangat menarik di mana para peneliti menyebutkan bahwa fitur bawah tanah tersebut tampak terbagi menjadi tiga lapisan. Hal ini mendorong tim untuk membuat perbandingan dengan deskripsi Alkitab mengenai Bahtera Nuh yang memiliki tiga tingkat geladak.

Pengeboran Inti Dimulai

Para peneliti kemudian mengambil sampel inti dari bagian dalam dan luar formasi yang menyerupai bentuk kapal tersebut, hingga mencapai kedalaman sekitar 18 meter. Menurut tim peneliti, sampel inti tersebut menghasilkan lapisan yang mengandung material organik dalam jumlah besar. Sampel-sampel itu kini sedang dikirim untuk menjalani uji laboratorium guna menentukan secara pasti jenis material tersebut dan perkiraan usianya.

Pada satu titik, pengeboran dilaporkan terhenti setelah peralatan mengenai lapisan yang sangat keras di kedalaman sekitar empat hingga lima meter di bawah permukaan, yang membuat mata bor patah. Andrew Jones, pendiri Noah’s Ark Scans sekaligus wakil ketua proyek penelitian, mengatakan bahwa kayu yang telah membatu atau kayu dengan kandungan mineral tinggi merupakan beberapa kemungkinan yang sedang dipertimbangkan.

Robot Eksplorasi Gopher Digunakan

Langkah berikutnya bisa jadi jauh lebih dramatis. Para peneliti sedang menyiapkan robot eksplorasi kecil bernama Gopher, yang dirancang untuk memasuki ruang-ruang sempit melalui lubang bor dan merekam video sembari mengumpulkan sampel. Tujuannya adalah menyelidiki ruang bawah tanah yang terdeteksi oleh radar tanpa harus segera membongkar bagian besar dari formasi tersebut. Jika rongga-rongga itu benar-benar berisi struktur buatan manusia, rekaman tersebut dapat memberikan bukti visual langsung pertama mengenai apa yang terkubur di bawah gundukan misterius itu.

 

Para peneliti juga telah mengumpulkan sekitar 1.000 sampel tanah dari 150 lokasi dan menemukan pecahan tembikar di luar formasi tersebut yang berasal dari Zaman Kalkolitikum hingga Zaman Besi. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia pernah menggunakan atau mengunjungi kawasan tersebut dalam kurun waktu yang sangat lama, meskipun pecahan tembikar itu tidak membuktikan adanya kaitan dengan Nuh ataupun Bahteranya.

Jones menyatakan keyakinannya bahwa Formasi Durupınar menyimpan sisa-sisa Bahtera Nuh yang terkubur, dan ia menyebut bukti terbaru sebagai konfirmasi bahwa formasi tersebut merupakan buatan manusia. Namun, saat ini belum ada studi ilmiah yang telah melalui tinjauan sejawat (peer-review) yang membuktikan bahwa struktur bawah tanah tersebut dibangun oleh manusia. Selain itu, belum ada pula kapal kayu yang ditemukan yang dapat dikonfirmasi keberadaannya melalui studi semacam itu.

Bahtera Nuh Masih Jadi Misteri

National Geographic sebelumnya telah melaporkan bahwa banyak arkeolog menganggap Formasi Durupınar sebagai fitur geologis alami dan bahwa upaya pencarian modern untuk menemukan Bahtera tersebut masih sangat kontroversial. Referensi Alkitab sendiri menyebutkan bahwa Bahtera itu berlabuh di "pegunungan Ararat" lebih dari 4.300 tahun yang lalu—sebuah keterangan yang tidak serta-merta merujuk pada Gunung Ararat modern ataupun situs Durupınar. Bahkan, situs web proyek tersebut yang berbahasa Turki menyatakan bahwa kegiatan mereka berfokus pada penyelidikan bukti geologis dan geofisika, bukan untuk memverifikasi klaim sejarah atau keagamaan.

Jadi, setelah berabad-abad pencarian, belum ada kepastian mengenai keberadaan Bahtera di bawah pegunungan Turki tersebut. Yang dimiliki para peneliti saat ini hanyalah sebuah formasi yang sangat tidak biasa, citra yang kian mendetail mengenai apa yang ada di bawahnya, sampel fisik yang kini sedang diproses untuk analisis laboratorium, serta rencana untuk mengirim robot ke ruang-ruang yang belum terjamah. Hal ini berarti tahap penyelidikan berikutnya mungkin pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat daripada sekadar foto batu yang menyerupai kapal: yakni bukti yang benar-benar dapat diuji.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya