Para peneliti juga telah mengumpulkan sekitar 1.000 sampel tanah dari 150 lokasi dan menemukan pecahan tembikar di luar formasi tersebut yang berasal dari Zaman Kalkolitikum hingga Zaman Besi. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia pernah menggunakan atau mengunjungi kawasan tersebut dalam kurun waktu yang sangat lama, meskipun pecahan tembikar itu tidak membuktikan adanya kaitan dengan Nuh ataupun Bahteranya.
Jones menyatakan keyakinannya bahwa Formasi Durupınar menyimpan sisa-sisa Bahtera Nuh yang terkubur, dan ia menyebut bukti terbaru sebagai konfirmasi bahwa formasi tersebut merupakan buatan manusia. Namun, saat ini belum ada studi ilmiah yang telah melalui tinjauan sejawat (peer-review) yang membuktikan bahwa struktur bawah tanah tersebut dibangun oleh manusia. Selain itu, belum ada pula kapal kayu yang ditemukan yang dapat dikonfirmasi keberadaannya melalui studi semacam itu.
National Geographic sebelumnya telah melaporkan bahwa banyak arkeolog menganggap Formasi Durupınar sebagai fitur geologis alami dan bahwa upaya pencarian modern untuk menemukan Bahtera tersebut masih sangat kontroversial. Referensi Alkitab sendiri menyebutkan bahwa Bahtera itu berlabuh di "pegunungan Ararat" lebih dari 4.300 tahun yang lalu—sebuah keterangan yang tidak serta-merta merujuk pada Gunung Ararat modern ataupun situs Durupınar. Bahkan, situs web proyek tersebut yang berbahasa Turki menyatakan bahwa kegiatan mereka berfokus pada penyelidikan bukti geologis dan geofisika, bukan untuk memverifikasi klaim sejarah atau keagamaan.
Jadi, setelah berabad-abad pencarian, belum ada kepastian mengenai keberadaan Bahtera di bawah pegunungan Turki tersebut. Yang dimiliki para peneliti saat ini hanyalah sebuah formasi yang sangat tidak biasa, citra yang kian mendetail mengenai apa yang ada di bawahnya, sampel fisik yang kini sedang diproses untuk analisis laboratorium, serta rencana untuk mengirim robot ke ruang-ruang yang belum terjamah. Hal ini berarti tahap penyelidikan berikutnya mungkin pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat daripada sekadar foto batu yang menyerupai kapal: yakni bukti yang benar-benar dapat diuji.
(Rahman Asmardika)