MAROKO — Raja Mohammed VI dari Maroko menunjuk Menteri Perencanaan Kota Fatima Ezzahra Mansouri sebagai perdana menteri, pada Selasa 29 September 2026. Penunjukan tersebut menjadikan pengacara berusia 50 tahun itu sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi perdana menteri di kerajaan Muslim tersebut.
Mansouri, yang hingga pencalonannya juga menjabat sebagai Wali Kota Marrakech, ditugaskan untuk membentuk pemerintahan baru. Melansir AP, Istana Kerajaan Maroko menyampaikan penunjukan tersebut dalam sebuah pernyataan.
Mansouri menjadi perempuan kedua yang menjabat sebagai perdana menteri di dunia Arab setelah Najla Bouden di Tunisia. Ia diperkirakan akan membangun koalisi dalam beberapa hari mendatang untuk membentuk pemerintahan. Sistem pemilihan di Maroko membuat satu partai sulit memperoleh mayoritas mutlak.
Pemerintahan Mansouri diharapkan melakukan investasi miliaran dolar terkait dengan Piala Dunia FIFA 2030. Pemerintahannya juga akan berupaya memenuhi sejumlah janji, termasuk memerangi inflasi, menaikkan upah, dan menciptakan lapangan kerja.
Konstitusi Maroko memberikan raja, sebagai otoritas tertinggi negara, kewenangan untuk menunjuk perdana menteri. Namun, perdana menteri harus berasal dari partai yang memperoleh kursi terbanyak dalam pemilihan parlemen.
Ketentuan tersebut merupakan perubahan yang berhasil didorong para demonstran dalam gerakan Musim Semi Arab pada 2011. Sebelum perubahan itu, raja dapat menunjuk perdana menteri tanpa batasan tersebut.
Mansouri bergabung dengan PAM sejak partai tersebut didirikan pada 2008 oleh Fouad Ali El Himma, teman masa kecil sekaligus penasihat dekat Raja Mohammed VI.
Lulusan hukum dari Universitas Montpellier di Prancis tersebut menjadi salah satu pemimpin puncak PAM pada 2024. Mansouri juga dua kali menjabat sebagai Wali Kota Marrakech dan pernah menjadi anggota parlemen.
Mansouri merupakan putri "pasha Marrakech", Abderrahmane El Mansouri, seorang pejabat senior setempat yang juga pernah menjabat sebagai duta besar Maroko untuk Uni Emirat Arab. Ia juga pernah memimpin asosiasi pengacara Marrakech dan merupakan seorang pemilik tanah.
Mansouri pernah menghadapi tuduhan konflik kepentingan setelah sekelompok peretas tak dikenal mengklaim bahwa dirinya menggunakan posisi untuk memperoleh keuntungan pribadi terkait transaksi tanah di Marrakech. Mansouri membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai fitnah. Ia juga mengambil tindakan hukum terkait tuduhan tersebut.
PAM Raih Suara Terbanyak
Sebanyak satu juta dari 15,8 juta pemilih terdaftar dalam pemilihan pekan lalu memilih Partai Otentisitas dan Modernitas. Hasil tersebut menandai kemenangan pertama PAM sejak partai itu didirikan.
Pemilihan tersebut merupakan yang pertama sejak krisis migrasi Ceuta pada Juli lalu dan protes yang dipimpin kaum muda yang berujung pada kekerasan tahun lalu.
Setelah nominasi kerajaan, fokus kini beralih pada pembentukan koalisi yang akan menjalankan pemerintahan berikutnya. PAM telah menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan semua partai.
Namun, beberapa partai, termasuk partai Islam moderat Keadilan dan Pembangunan serta Federasi Kiri Demokratik, telah menyatakan akan tetap berada di posisi oposisi.
(Arief Setyadi )