Sementara itu, Sekretaris Jenderal LPOI sekaligus penulis buku, Imam Pituduh, mengatakan penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari upaya menyambut Hari Santri 2026 sekaligus merekonstruksi narasi sejarah Islam di Nusantara untuk diwariskan kepada generasi mendatang.
Menurut Imam, Surabaya dipilih sebagai lokasi peluncuran awal karena memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kegiatan tersebut juga dimaksudkan sebagai momentum untuk menelusuri kembali sejarah Nusantara serta mengambil inspirasi dari perjuangan para wali dan kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Imam menilai, di tengah derasnya arus informasi di ruang publik modern, sejarah kerap disajikan dalam narasi singkat dan terfragmentasi yang tidak selalu didukung bukti memadai. Penyederhanaan maupun manipulasi masa lalu dapat memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap identitas, hubungan antarkelompok, dan perjalanan bangsa.
“Di tengah ruang publik modern yang dipenuhi informasi dengan peredaran sangat cepat, sejarah kerap hadir dalam bentuk narasi yang ringkas, terfragmentasi, dan tidak selalu didukung bukti yang memadai. Penyederhanaan maupun manipulasi masa lalu dapat memengaruhi cara masyarakat memahami identitas, hubungan antarkelompok, dan perjalanan bangsanya," ujar Pituduh.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kemampuan masyarakat untuk membedakan fakta sejarah, interpretasi, dan opini; memeriksa sumber; memahami konteks; serta menilai suatu narasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Acara peluncuran dan bedah buku tersebut dihadiri anggota Wantimpres H. Soekarwo atau Pakde Karwo, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, pengurus LPOI, sejumlah rektor perguruan tinggi negeri dan swasta, perwakilan pondok pesantren di Jawa Timur, serta tokoh-tokoh masyarakat setempat.
(Awaludin)