Akar Konflik Antara Saudi dan Houthi Pada Perang Yaman

Opini, Jurnalis
Senin 19 Oktober 2026 17:54 WIB
Ridwan Al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia dan Direktur COMPOSE.
Share :

Kegagalan proses transisi dan meningkatnya pertentangan antarkelompok turut mendorong eskalasi kekerasan pada 2014. Dengan kata lain, perang tidak lahir dalam ruang kosong sejarah. Ia tumbuh dari negara yang gagal mengelola konflik politik melalui institusi demokratis.

Gerakan Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, berasal dari wilayah Saada di Yaman utara. Gerakan ini tumbuh dari lingkungan komunitas Zaidiyah, cabang Syiah yang memiliki tradisi keagamaan dan sejarah politik tersendiri di Yaman. Pada awal perkembangannya, gerakan tersebut menentang apa yang dipandang sebagai marginalisasi politik dan sosial masyarakat di wilayah utara. Ketegangan dengan pemerintahan Saleh berkembang menjadi konflik bersenjata sejak 2004.

Momentum penentu terjadi pada September 2014 ketika Houthi menguasai ibu kota, Sana'a. Pada mulanya, gerakan ini memanfaatkan ketidakpuasan terhadap pemerintah, termasuk persoalan harga bahan bakar dan tuntutan perubahan politik. Mereka kemudian membangun aliansi taktis dengan Saleh, mantan presiden yang sebelumnya menjadi musuh mereka.

Bagi Riyadh, kebangkitan Houthi bukan hanya masalah internal Yaman. Yaman berbatasan langsung dengan Arab Saudi, sehingga perubahan keseimbangan kekuasaan di Sana'a memiliki implikasi langsung bagi keamanan kerajaan tersebut.

Pada 26 Maret 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan intervensi militer untuk mendukung pemerintahan Hadi yang diakui secara internasional. Riyadh menyatakan bahwa intervensi militer diperlukan untuk memulihkan pemerintahan yang sah dan mencegah kelompok bersenjata menguasai negara tetangga.

Akan tetapi, kalkulasi keamanan Saudi juga berkaitan dengan meningkatnya pengaruh Iran di kawasan Teluk. Houthi memiliki hubungan politik dan dukungan militer yang berkembang dengan Teheran. Bagi Arab Saudi, hubungan itu memunculkan kekhawatiran bahwa rival regionalnya akan memperoleh pijakan strategis di perbatasan selatannya.

Meski demikian, menggambarkan Houthi semata-mata sebagai proksi Iran juga menyederhanakan persoalan. Gerakan tersebut mempunyai akar sosial, kepentingan domestik, struktur kepemimpinan, dan agenda politik sendiri. Dukungan Iran memperkuat kemampuan militernya, tetapi tidak menjelaskan seluruh alasan di balik kemunculan maupun keberlangsungan gerakan tersebut. Houthi memiliki derajat otonominya sendiri.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya