nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bambang Kesowo, PT Theda, dan Pengusaha China

Trust, Jurnalis · Selasa 17 Juni 2008 15:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2008 06 17 217 119513
Dasar penyelidikan KPK atas pembangunan pusat niaga di kawasan Kemayoran tak lepas dari penunjukkan PT Theda Pratama Nusantara. Kasus itu mencuat ke permukaan akhir 2003 silam, ketika sejumlah media massa memberitakan soal adanya keterlibatan keluarga Presiden ketika itu dalam praktik KKN, pada proyek pengembangan kawasan Kemayoran. Tak kurang dari anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) Effendy Choirie, saat itu mengaku memiliki dokumen yang valid terkait proyek senilai USD700 juta di kawasan Kemayoran. "Kami mencium adanya praktik haram dalam pengelolaan tanah negara di Kemayoran," ujarnya.

Berdasarkan dokumen dan informasi yang dimiliki Choirie itu, disebut-sebut ada perlakuan tak wajar dalam penyerahan hak pengelolaan sekira 300.000 m2 tanah negara di kawasan Kota Baru Kemayoran, milik Sekretariat Negara. Hak pengelolaan tanah itu, sebelumnya merupakan bagian dari kawasan bekas Bandara Kemayoran yang jatuh ke PT Theda.

Lewat PT Theda, kawasan yang sebelumnya kurang terawat itu akan disulap menjadi kawasan komersial, dengan nama keren China Center. Kawasan komersial itu rencananya meliputi pusat perbelanjaan, hypermarket, apartemen, perkantoran, serta sentra kegiatan bisnis modern lainnya.

PT Theda bertindak sebagai penyedia lahan siap bangun, lengkap dengan perizinan dan pemasarannya. Sedangkan penyedia dana, berikut master plan dan desain bangunan, adalah Organizations and Beijing Returned Overseas Chinese Federations Partners. Lembaga hukum yang berdomisili di Beijing, China, ini juga berkewajiban menerbitkan bank garansi, sedikitnya USD700 juta, untuk pembiayaan proyek. Target pemasaran proyek properti itu adalah pemerintah dan pengusaha dari Republik Rakyat Cina (RRC), dan pengusaha asing lainnya.

Proyek ini menjadi perhatian karena bukan pengusaha biasa yang berada di balik PT Theda. Salinan dokumen notaris Ratna Sintawati Tantudjojo menyebutkan bahwa wakil komisaris utama perusahaan yang baru berdiri pada 27 Januari 2003 itu adalah Mohammad Rizky Pratama. Putra pertama Megawati Sukarnoputri dengan almarhum Surindro Supjarso--suami pertama Mega--itu mendampingi Samingoen, pimpinan Dana Pensiun Perkebunan, yang bertindak sebagai komisaris utama.

Sedangkan posisi direktur utama diisi The Hok Bing, warga negara Indonesia yang tinggal di kawasan Roxy, Jakarta. Untuk membangun 10 blok kawasan Kemayoran dengan luas total 31,2 hektare itu, mereka menggandeng Li Zhaoling. Menurut dokumen notaris bertanggal 29 Juli 2003 itu, pemegang paspor RRC itu mengaku bertindak selaku Direktur Organizations and Beijing Returned Overseas Chinese Federations Partners.

Sampai di situ persoalannya belum kentara. Menurut Choirie, berdasarkan informasi yang ia peroleh, penyerahan hak pengelolaan lahan ke PT Theda berlangsung melalui proses tidak benar. "Kabar yang kami peroleh, nilai pembelian lahan tersebut di bawah nilai jual objek pajaknya," cetusnya.

Sebenarnya, keterangan yang dilansir Choirie mirip dengan hasil audit BPK, yang berkali-kali menyebutkan nama PT Theda dalam beberapa pemeriksaannya. Sayangnya, kini ketika Bambang dimintai keterangan oleh KPK,  tak berhasil menemuinya. Menurut salah seorang keluarganya, Bambang sedang ke luar negeri.

Ketika kasus itu ramai dibicarakan pada akhir 2003 Bambang sudah membantah keras tudingan itu. Menurutnya, investasi PT Theda adalah bisnis normal untuk memanfaatkan lahan komersial yang lazim berlaku di Indonesia. "Perolehannya berlangsung lewat tender terbuka, yang telah beberapa kali ditawarkan kepada umum," ujarnya. 

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini