SEMARANG - Dianggap belum memenuhi syarat, peluncuran Bus Rapid Transport (BRT) Trans Semarang siang ini didemo puluhan sopir angkot.
Ketidaksiapan pihak pengelola, menurut Ketua Paguyuban Angkota Roda Mulya Rojikin, tidak hanya pada aspek administratif, namun juga pada kelengkapan infrastruktur penunjan operasional bus.
"Lihat saja, belum ada petugas shelter, termasuk karyawan bagian tiketnya. Belum lagi ternyata konsorsium telah mengundurkan diri karena merugi. Infrastruktur juga belum memadai karena beberapa shelter jalan depannya ada yang belum diaspal. Kenapa harus dipaksakan?" tegas Rojikin di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (2/5/2009).
Ditambahkan pula oleh Rojikin, peluncuran BRT hanya akan mengurangi pendapatan para sopir angkot. "Apalagi dua hari ini BRT dijalankan dengan gratis. Kalau seperti itu semua penumpang akan naik BRT. Lha kami makan apa?" cetusnya.
Rojikin juga menegaskan telah bertemu dengan Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang Andi Agus Wandono. "Pak Agus mengatakan memang telah menyetujui BRT dan diluncurkan hari ini. Tapi itu atas paksaan dari Wali Kota. Dia terpaksa karena harus melaksanakan tugas," tegasnya.
Sementara itu Walikota Semarang Sukawi Sutarip tidak mau menemui demonstran yang menggelar unjuk rasa di depan Balai Kota dengan alasan sibuk. Namun Rojikin menyatakan akan memberi batas waktu maksimal sebulan. Jika Sukawi Sutarip tidak mau bertemu dengan para sopir angkot, maka dipastikan akan terjadi mogok massal. "Kami akan menggandeng dan menggerakkan semua sopir angkot, bus dan taxi agar melakukan mogok kerja," tandas Rojikin.
Secara terpisah Walikota Semarang Sukawi Sutarip menyatakan, kehadiran BRT tidak akan mengurangi pendapatan sopir angkot. Dia malah meminta sopir angkot mendukung peluncuran BRT karena akan mempercepat terjadinya transportasi yang nyaman.
Sukawi mengakui masih ada sarana penunjang BRT yang belum selesai dikerjakan seperti ticketing dan rambu-rambu lalu lintas terutama garis marka untuk BRT menepikan kedaraannya. Namun dia menolak jika dikatakan peluncuran BRT terkesan dipaksakan. Hal ini karena sudah sejak Oktober 2008 armada bus sudah tersedia.
Pengamatan okezone di lapangan, terlihat beberapa shelter yang belum buka. Selain itu juga tak nampak karyawan yang melayani di shelter. Hanya ada pegawai Dishub dan beberapa anggota polisi yang berjaga disetiap shelter.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.