BEIJING - Pemerintah China membebaskan seorang pembangkang yang menjalani tahanan paling lama di negeri tersebut. Aktivis hak asasi manusia yang berasal dari Mongolia, Hada sebelumnya dijadwalkan akan dibebaskan pada Jumat 10 Desember lalu.
Hada diadili di Pengadilan Mongolia, China pada 1996 lalu. Ia ditahan selama 15 tahun atas tuduhan separatisme dan melakukan tindakan mata-mata serta mendukung Aliansi Demokratik Mongolia Selatan. Aliansi ini mendukung hak asasi dari kelompok etnis Mongolia. Demikian dilansir Reuters, Senin (13/12/2010).
Pihak berwenang China sebelumnya menjadwalkan kebebasan Hada pada hari Jumat 10 Desember lalu, bersamaan dengan pembangkang China lainnya Liu Xiabao dihadiahi Nobel Perdamaian.
Menjelang bebasnya Hada, Istri beserta anaknya ditahan oleh pihak berwenang China. Namun menurut kelompok pemerhati HAM Mongolia (SMHRIC) yang bertempat di New York, Amerika Serikat (AS), Hada bersama dengan keluarganya saat ini telah berkumpul kembali.
Pertemuan Hada dengan keluarganya diperkirakan tidak lakukan di rumah mereka. Pemerintah China diyakini mengatur pertemuan mereka di tempat yang dirahasiakan.
Selama berdekade lebih warga etnis Mongolia terus terpinggirkan dari daerah mereka sendiri. Ini disebabkan migrasi etnis Han yang kemudian menguasai sebagian besar wilayah Mongolia. Etnis Han sendiri merupakan etnis utama di Negeri Panda tersebut.
(Fajar Nugraha)
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari