Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pak JK, Ambon 'Panas' Lagi!

Dadan Muhammad Ramdan , Jurnalis-Senin, 12 September 2011 |12:49 WIB
Pak JK, Ambon 'Panas' Lagi!
Jusuf Kalla (Foto:Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Kondisi keamanan di Ambon belum sepenuhnya kondusif. Sejumlah titik yang sempat terjadi bentrokan antarwarga masih disiagakan petugas keamanan dengan senjata lengkap.

Ya, situasi Ambon masih "panas" yang kapanpun kerusuhan bisa meletus kembali jika ada pihak-pihak yang sengaja memicu aksi kekerasan. Ambon bisa berubah menjadi ajang perang batu dan senjata tajam. Kondisi Ambon yang belum sepenuhnya normal diakui Menko Polhukam Djoko Suyanto. "Normal seperti biasanya ya belum karena masih ada beberapa sektor yang dijaga," kata Djoko di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (12/9/2011).

Kondisi Ambon yang rawan konflik ini jangan sampai berujung menjadi perang saudara yang meluas seperti pada 1999 silam. Kala itu, Ambon dan Poso berdarah-darah. Sebuah tragedi kemanusiaan dengan ribuan manusia tewas sehingga menjadi catatan paling kelam penegakan hukum dan HAM di Tanah Air.

Ambon dan daerah rawan konflik lainnya harus tetap dibalut dengan seledang perdamaian. Sebab itu, semua tokoh yang ada di Ambon harus terus berupaya meredam konflik sehingga tidak meluas dan melebar. Pasalnya, menyelesaikan konflik ini tidaklah mudah, seperti dalam penanganan kasus-kasus sebelumnya.

Kendati demikian, bukan berarti Ambon tidak bisa aman. Buktinya, dalam insiden 1999, semua pihak yang terlibat bisa duduk bersama untuk menghentikan konflik yang hanya mengundang bencana kemanusiaan. Tak hanya kerugian materi, nyawa pun banyak yang melayang sia-sia.

Nah, berbicara pengalaman mendamaikan Ambon ketika itu ada sosok yang dinilai cukup berperan. Siapakah dia? Salah satunya adalah mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK). Pada waktu kerusuhan Ambon meletus tahun 1999, JK masih menjabat selaku Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) dengan presidennya Megawati Soekarnoputri. Kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat sebagai Menko Polkam.

Lalu apa yang dilakukan JK saat itu? Ketua Umum PMI ini meminta izin terlebih dahulu kepada Presiden Megawati untuk menyelesaikan langsung konflik Ambon dan Poso dengan caranya sendiri. Meski hanya mendapat izin lisan karena Mega tidak mengeluarkan surat perintah, JK terbang ke Ambon.

Hampir dua pekan mantan ketua umum Partai Golkar ini tinggal di Ambon. "Tujuan saya menyelesaikan masalah pengungsi yang jumlahnya sekitar dua juta orang. Saya pikir, pengungsi tidak akan selesai tanpa diselesaikan konfliknya dulu. Karena itu, saya harus selesaikan konfliknya," papar JK dalam Forum Dialog Perdamaian di Pusat Perfilman Usmar Ismail di Jakarta, 23 Juni 2009 silam.

Menurutnya, untuk menyelesaikan konflik Ambon memang tidak mudah. Dirinya setiap berkeliling kota Ambon mengamati kondisi pascabentrokan berdarah. Hal yang dilakukannya dalam mendamaikan pihak-pihak yang berselisih adalah menemui para panglima perang baik dari kelompok Islam maupun Keristen. "Caranya melakukan pendekatan langsung ke para panglima perang kedua kelompok yang bertikai," terang JK.

Cara pendekatan kepada tokoh-tokoh yang terlibat konflik di Ambon akan lebih efektif daripada tindakan refresif dengan mengerahkan pasukan dan menangkap orang-orang yang terlibat bentrokan. Kendati demikian, aparat tetap harus siaga jika sewaktu-waktu bentrokan pecah kembali.

Hal ini juga diakui Menko Polhukam Djoko Suyanto. "Saya kira mereka sudah sangat berpengalaman, sudah mengetahui betapa susahnya untuk meredakan konflik, kelihatannya mereka dan juga tokoh-tokoh Maluku di sini dan sana memiliki pandangan yang sama. Imbauan di media massa, saya lihat tadi pagi juga sangat bagus," paparnya.

Ambon memang rawan konflik antarwarga. Selain kerusuhan yang terjadi kemarin, bentrokan paling tragis meletus pada 1999 silam. Konflik dan pertikaian yang melanda masyarakat Ambon-Lease sejak Januari 1999, telah berkembang menjadi aksi kekerasan brutal yang merenggut ribuan jiwa dan menghancurkan semua tatanan kehidupan bermasyarakat.

Hingga 2 September 1991 setidaknya telah tercatat 1.132 korban tewas, 312 orang luka parah, 142 orang luka ringan. Sebanyak 765 rumah, 195 ruko serta puluhan kendaraan hancur dibakar. Di samping itu 100.000 ribu orang sudah meninggalkan tempat tinggalnya dan sedikitnya 30.000 orang menjadi pengungsi di 60 kamp penampungan, khususnya di kota Ambon dan sekitarnya.

Imbasnya, sarana transportasi khususnya transportasi udara, terhenti. Harga-harga kebutuhan pokok kian melonjak dan persediaan makanan menipis, sementara kegiatan pendidikan pun terhenti. (K Yudha Wirakusuma/Okezone)

(Dadan Muhammad Ramdan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement