Sindonews.com - Secara de facto dan de jure Presiden RI pertama Soekarno hanya memiliki keturunan Megawati Soekarnoputri dan saudara-saudaranya. Yakni, putra-putri yang terlahir dari rahim The First Lady, Fatmawati.
Bung Karno juga memiliki seorang anak hasil pernikahanya dengan wanita Jepang Naoko Nemoto, yang kemudian agar lebih Indonesia berganti nama Ratna Sari Dewi. Namun diluar semua itu, tidak sedikit nama mengaku sebagai keturunan biologis Bung Karno (BK). Maklumlah sejarah mencatat, BK menyukai keindahan, terutama perempuan.
Sebut saja nama Siti Aisyah Margarose Soekarno Putri (51), warga Jakarta, yang mengaku sebagai anak BK dari istri keempat. Kemudian Gempar Soekarno Putro, yang juga menyatakan diri sebagai darah daging BK. Begitu juga Raden Mas Soekrowo, pria asal Bandung, Jawa Barat yang juga mengklaim sebagai keturunan biologis BK. Fenomena mengaku-ngaku keturunan BK tidak berhenti sampai di situ. Di Kabupaten Tulungagung Gusti Raden Mas (GRM) Hanif Suryo Saputro juga memproklamirkan diri sebagai anak kandung BK.
Soekarno memang menarik. Tidak hanya terlihat “macho” dalam bersikap. Sejarah mengenang begitu benderang, bagaimana putra sang fajar sebagai salah satu dari sekian pemimpin negara di Asia yang tak gentar melawan hegemoni barat.
BK tak canggung berseru “go to hell with your aid” kepada uluran bantuan sang adikuasa Amerika. Ungkapan benci “pergilah ke neraka berserta segala bantuanmu Amerika” selalu dia selipkan pada setiap pidatonya yang berapi-api. “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”. Begitu juga tanpa tedeng aling-aling berseru lantang “ganyang Malaysia”.
BK memilih merangkul pemimpin Uni Sovyet (sekarang Rusia) yang secara ideologi bertolak belakang dengan kapitalistik Amerika. Kendati demikian, menantu tokoh pergerakan Indonesia HOS Cokroaminoto ini tidak menyeret Indonesia ke dalam kancah konflik internasional. BK tidak tertarik bergabung ke dalam Blok Barat yang dikepalai Amerika maupun Blok Timur yang “diimami” Uni Sovyet. Dia justru dengan cerdik menggalang kekuatan baru yang dinamainya Non Blok.
BK dengan nekat menyatakan diri keluar dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mendirikan Conference of New Emerging Force (Conefo) sebagai tandingan. Dia dengan berani menyelenggarakan Games od The New Emerging Force (Ganefo) di Senayan, Jakarta, pada 10-22 November 1963. Sebuah pesta olahraga tandingan Olimpiade yang diikuti sebanyak 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan.
Setidaknya sepak terjang heroik tersebut yang mendorong Gusti Raden Mas (GRM) Hanif Suryo Saputro begitu mengagumi BK. Tak hanya takjub, Hanif juga mencoba meleburkan semua yang dimiliki BK, termasuk penampilan (BK) ke dalam dirinya. Mulai dari baju, gaya berdandan, hingga cara bicara termasuk pemilihan diksi BK, dia adaptasi habis-habisan.
Hanif juga membiasakan diri mengenakan setelan pakaian dengan model potongan Ganefo. Yakni baju model semi militer, dengan hiasan dua saku kiri kanan tertutup. Selain putih sebagai warna favorit, dia juga memilih warna gelap sebagaiamana dilakukan BK. Kecuali sedang tidur, Hanif juga tak pernak melepas peci hitam berukuran menjulang yang selalu bertengger di atas kepalanya.
Pria kelahiran Yogjakarta 1955 yang bertempat tinggal di Desa Kalangan, RT 03 RW 02, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung itu juga memiliki tongkat komando. Sebatang kayu bulat mengkilat dengan ukuran sekira setengah meter. Pada bagian ujungnya terlapisi logam warna kuning emas berkilauan, dengan ukiran kepala burung garuda. Sementara ujung yang lain logam polos yang mengerucut (lancip). Tidak sedikit orang yang tahu, bahwa dalam tongkat itu ada kerisnya.
Keris berukuran tidak besar itu mungkin menjadi “piandel” (pegangan) Hanif, dengan tujuan agar senantiasa tampak gagah dan berwibawa. “Saya adalah putra biologis Bung Karno. Saya anak tunggal dari istri pertama Bung Karno, “ tuturnya tegas.
Suaranya terdengar parau, serak, mirip penyanyi jazz dan blues. Setiap bicara, pandangannya tidak pernah lepas dari lawan bicaranya. Ekspresinya serius, kaku serta tidak memberikan ruang sedikitpun untuk humor. Seolah untuk berdehempun diatur, agar sama persis dengan BK. “Bukankah raut wajah saya ini mirip dengan BK- kan, “ tanyanya serius meminta persetujuan.
Hanif menyebut nama Gusti Raden Ayu Dewi Perwita Maharani alias Dewi Kunti sebagai ibundanya. Wanita ini yang pertama kali dinikahi BK sebelum menyunting Fatmawati dan lainnya. “Ibu saya ini keturunan dari Sultan Hamengkubuwono VIII, “ terangnya tanpa sanggup menjelaskan silsilah secara detailnya.
Hanif bertempat tinggal di Tulungagung sejak tahun 2000. Lagi-lagi, karena masa kecil BK, yakni sekitar umur 5 tahun pernah ikut eyangnya (nenek) di Kecamatan Kepatihan, Kabupaten Tulungagung (buku Penyambung Lidah Revolusi karya Cindy Adam), Hanif juga melakukanya. Di Desa Kalangan dia tinggal di rumah keluarga Ali Purwanto, warga setempat. “Ini semacam laku hidup saya mengikuti apa yang sudah dilakukan ayah saya (BK), “ terangnya percaya diri.
Di Desa Kalangan, Hanif mendirikan Organisasi Sosial Kemasyarakatan Nasional Independen Persatuan Rakyat Rajawali Mas Indonesia (OSKNI-PRRMI). Secara struktural, Tulungagung menjadi pusat atau Dewan Pimpinan Pusat (DPP) OSKNI-PRRMI dari tingkat cabang yang tersebar di sejumlah daerah. Tidak heran jika di Desa Kalangan yang terpencil itu banyak berkumpul orang-orang yang mengaku dari Kediri, Trenggalek, Blitar, Jombang, Mojokerto, Malang, Jogjakarta, Bojonegoro, dan Surabaya.
“Jumlah anggota yang tersebar mencapai 700-an orang dan ini akan terus bertambah.. Paling banyak berasal dari Blitar. Karena sejarah BK dengan Blitar begitu kuat, “terang Hanif yang biasa dipanggil dengan sebutan Romo. Mereka yang berkumpul ini berasal dari lintas keyakinan. Ada yang Islam, Nasrani, Hindu, Budha dan Kejawen.
Begitu juga dengan latar belakang mata pencaharian, meski sebagian besar wiraswasta, tidak sedikit anggota perkumpulan ini berasal dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS). Tujuan organisasi ini adalah memberdayakan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat secara rohani, sosial, ekonomi dan budaya.
Menurut Hanif, saat ini masyarakat dalam kondisi krisis. Hadirnya OSKNI-PRRMI akan menjadi alat perjuangan rakyat. Kendati demikian, Hanif enggan menjelaskan, dari mana sumber keuangan organisasi dalam rangka pengentasan itu. Dia hanya mengatakan dana revolusi Soekarno. “Yang pasti kita telah memegang kunci untuk mencairkan dana yang jumlahnya begitu besar itu, “ pungkasnya.
Sapari (27), salah seorang anggota yang ditugasi memimpin di wilayah Trenggalek mengaku sudah 7 tahun tergabung dalam perkumpulan ini. Baginya, di dalam organisasi yang beranggotakan majemuk itu, dirinya dalam rangka mencari kebenaran hidup. “Dan di sini saya telah mendapatkan ketenangan, “ ujarnya. Untuk bergabung dengan organisasi ini, Sapari mengaku membayar iuran sebesar Rp 700 ribu untuk kartu anggota. Janji Romo Hanif, iuran akan dikembalikan dalam jumlah berlipat setelah dana revolusi cair.
Kapolsek Ngunut Komisaris Polisi Priyono menilai perkumpulan yang sesuai catatan polisi berlangsung sejak tahun 2005 itu tidak meresahkan. Organisasi itu seperti lazimnya lembaga swadaya lainya. Karenanya, tidak perlu dilakukan pantauan secara khusus. Mengenai adanya dugaan indikasi penipuan, sejauh ini juga tidak ada pihak yang melaporkan. “Kita sudah pernah bertemu dengan pimpinanya dan memang ini perkumpulan biasa, “ ujarnya singkat.
Editor: Dadan M Ramdan
Laporan: Solichan Arif (Koran Sindo)
(Dadan Muhammad Ramdan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.