Sindonews.com - Situs merupakan peninggalan sejarah yang nilainya sangat berharga. Melalui situs, generasi baru bisa mengetahui peristiwa masa lampau.
Maka itu, keberadaannya harus dipertahankan dan dipelihara dari kepunahan.
Tapi sayang, sejumlah situs di Kota Cirebon akibat keterbatasan anggaran semakin kehilangan daya tarik, dan serta merta akan dilupakan keberadaannya. Perhatian semua pihak, termasuk masyarakat sangat dubutuhkan demi mencegah kepunahan.
"Masalah yang utama adalah tingkat keperawatan untuk memulihkan kondisi situs yang ada," Kepala Bidang Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Cirebon, Adin, Cirebon, Kamis (27/10/2011).
Pihaknya mencatat ada 52 situs dan cagar budaya yang dilindungi di Cirebon. Tapi Sayang, tidak semua bisa dipertahankan eksistensinya. Padahal, Kota Cirebon selama ini dikenal memiliki kekayaan sejarah, khususnya peninggalan Islam.
Dia mengungkapkan, biaya untuk melakukan perawatan cagar budaya, pihaknya cuma mendapatkan anggaran sebesar Rp200 juta per tahun. Tentu saja jumlah ini belum mencukupi.
Dampaknya adalah, sejumlah situs mengalami kerapuhan fisik. Selain mengalami keterbatasan anggaran, kendala lainnya adalah minimnya sumber daya manusia yang menguasai bidang arkeologi.
Pihaknya selama ini hanya mengandalkan tenaga juru kunci atau kuncen yang biasanya ada pada setiap situs, dengan memberi pelatihan-pelatihan. Lebih lanjut, dia mengimbau kepada semua pihak, termasuk masyrakat untuk ikut melindungi situs yang ada di Cirebon.
Demi mencegah kerusakan, masyarakat diminta untuk menghindari vandalisme atau aksi coret-coret. "Selama ini paradigma masyarakat, cagar budaya sepenuhnya tanggung jawab pemerintah. Padahal, itu tugas bersama, termasuk masyarakat," ucapnya.
Dia menyebutkan, sampai saat ini sejumlah situs yang telah hilang, seperti Pabrik Es Lawang Gada maupun Grand Hotel di Jalan Kartini. Sisanya menghadapi ancaman kerusakan. Sementara Situs lainnya dapat bertahan dengan perawatan seperti Keraton Kasepuhan.
Senada dengan Kepala Bidang Disporbudpar Kota Cirebon, Budayawan Cirebon Noerdin M Nur berpendapat pencegahan sejumlah situs di Cirebon membutuhkan campur tangan semua pihak, termasuk masyarakat dengan peran masing-masing.
Lanjutnya, jika sejumlah situs ini punah dampaknya adalah terancamnya masa depan daerah Cirebon. "Artefak merupakan bukti sejarah. Kita akan kehilangan sejarah di masa depan," tukasnya.
(Kurnia Ilahi)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.