KAIRO - Calon kandidat Presiden Mesir dari Kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) Mohammed Mursi mengatakan, jika terpilih sebagai Presiden Mesir ia akan merangkul semua kekuatan politik dan membentuk sebuah pemerintahan koalisi. Mursi pun berjanji akan menyediakan representasi bagi perempuan dan anak-anak di Mesir.
Lebih lanjut Mursi menegaskan, jika kelak terpilih dirinya tidak akan selalu memilih Perdana Menteri yang berasal dari kalangan IM saja kendati kelompok ini menguasai kursi di parlemen. Mursi juga menyebutkan, saat ini era Superman telah usai. Ucapan Mursi itu merujuk pada tergulingnya mantan penguasa Mesir, Husni Mubarak.
"Saya tekankan bahwa presiden tidak lagi merupakan kekuatan tunggal, sebaliknya presiden akan menjadi sebuah institusi. Saat ini era Superman telah berakhir," tegas Mohammed Mursi seperti yang diberitakan BBC Rabu, (30/5/2012).
Sementara itu, demi mendapatkan dukungan dari pemuda yang ikut melancarkan pemberontakan pada Mubarak, Mursi meyakinkan bahwa ia akan menjadikan Mesir sebagai sebuah negara demokrasi yang sesungguhnya.
"Saya akan mendirikan Mesir menjadi sebuah negara demoraksi, negara sipil yang modern dan menjamin kebebasan serta hak untuk melakukan aksi protes dengan damai," tukas Mursi.
Pernyataan Mursi ini muncul tidak lama setelah terjadinya penyerangan terhadap kantor pesaingnya, Ahmed Shafiq yang juga merupakan mantan Perdana Menteri Mesir era Mubarak. Penyerangan terhadap kantor Shafiq ini diserta dengan pembakaran serta perusakan terhadap bangunan dan berbagai peralatan yang ada didalamnya.
Insiden penyerangan itu juga menyisakan grafiti bertuliskan, "No to Shafiq". Sebagian kalangan berpendapat majunya Shafiq sebagai bagian dari rencana untuk membangkitkan kembali sisa-sisa kekuatan Mubarak di Mesir.
Shafiq sendiri diketahui menempati posisi kedua dalam jumlah perolehan suara pada pemilu putaran pertama yang hasilnya telah diumumkan oleh Komite Tinggi Pemilihan Presiden (HPEC) akhir pekan lalu. Sementara Shafiq menempati posisi kedua, Mursi dilaporkan unggul di posisi pertama dengan perolehan suara yang mencapai 24,3 persen.
Beberapa kandidat lainya seperti Abdul Moneim Aboul Fotouh yang menjadi kandidat favorit harus puas berada di urutan ke empat dengan hanya mendapat perolehan suara 14 persen. Abdul yang berasal dari kelompok Islam Moderat menuding pemilu putaran ini penuh dengan kecurangan dimana kandidat tertentu dapat membeli suara.
HPEC sendiri telah mengumumkan pihaknya menolak beberapa kandidat yang mencoba menggugat hasil pemilu putaran pertama tersebut dengan alasan terjadinya kecurangan. HPEC menegaskan, memang terdapat beberapa kesalahan, namun itu tidak akan mempengaruhi hasil perolehan suara.
(Rani Hardjanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.