nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gagal Jadi Dokter, Sisca Soewitomo Sandang Ratu Boga

Rani Hardjanti, Jurnalis · Kamis 06 Desember 2012 19:19 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2012 12 06 373 728536 FkjOzaELDV.jpg Sisca Soewitomo. (Foto : Lydia/Okezone)

JAKARTA - Siapa yang tidak mengenal Sisca Soewitomo? Dia adalah pemasak senior, sekaligus pakar kuliner di Indonesia, bahkan hingga mancanegara. Dia tidak hanya mampu menciptakan berbagai menu, tetapi juga melahirkan chef-chef di Tanah Air.

Sebut saja almarhum Muchtar Alamsyah atau yang lebih populer disapa Chef Tatang, Rudy Choiruddin, Deddy Rustandi, dan Haryanto Makmoer. Mereka adalah murid-murid yang matang, digembleng ilmu kebogaan oleh wanita jebolan Akademi Pariwisata Trisakti ini. Kala industri kuliner belum booming seperti saat ini, dia sudah lebih dulu malang melintang dan kenyang mengenyam teori, serta praktik kebogaan. Sehingga, pantas jika Sisca disebut sebagai ratu boga Indonesia.

Di kampus Trisakti lah Sisca memulai kariernya. Di kampus itu pula dia menuai titik kepopulerannya. "Ini semua berjalan karena latar belakang. Saya ini kan generasi lama, waktu saya kecil pada 1955-1956, tinggal di Surabaya, belum banyak toko kue dan restoran. Sehingga harus masak sendiri di rumah," tukas dia mengawali perbincangan dengan Okezone, Kamis (6/12/2012) sore.

Pada saat itu, Sisca belajar memasak karena sering melihat ibu atau nenek menyiapkan berbagai jenis makanan. Dari situlah dia senang memasak. Saat duduk di kelas 1 SD, Sisca sudah mampu memasak makanan sejenis donat. "Dahulu itu belum ada pengembang makanan, tetapi dari ragi yang buat tape," dia mengimbuhkan.

Kemahirannya terus berkembang. Saat SMP Sisca mampu memasak semacam kue bolu beraroma kayu manis, bernama kue ontbijtkoek. Dia memberanikan diri untuk menjual makanan produksinya. Respons atas makanan buatannya pun baik. "SMP saya sudah bisa memasak, dan memperoleh hasil dari kerja saya sendiri," ujarnya.

Kendati sudah memiliki bibit pemasak, dia memilih melanjutkan sekolah SMA bukan sekolah kejuruan boga. Lulus SMA, Sisca pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studi di bangku kuliah dan memilih fakultas kedokteran sebagai jurusan kuliah. Ya, dia awalnya memang berkeinginan menjadi dokter. Namun, cita-citanya itu kandas di tengah jalan lantaran pada semester kedua, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya.

"Saya menikah. Tetapi saya harus membuat sesuatu untuk menambah penghasilan keluarga. Saya pun kuliah lagi, di Trisakti. Dulu ada dua jurusan, yakni perhotelan dan seni rupa. Saya memilih perhotelan, karena saya berpikir tidak perlu capek-capek belajar. Saat itu saya sudah punya dua orang anak. Saya bisa kuliah sambil membesarkan anak," ujar dia.

Menempuh pendidikan di Trisakti, menurut dia banyak mendapatkan berkah. Pada 1974,  dia sudah mulai bekerja sebagai field personnel atau pekerja lapangan dalam Pacific Asia Travel Association (PATA) Conference, selama dua minggu. "Saya berhasil lolos, karena saya dulu bisa berbahasa Inggris. Bapak saya dulu kan pegawai Bea Cukai, banyak tamu asing. Jadi saya sudah terbiasa membaca buku dan berbahasa asing," cerita dia sambil tertawa.

Semasa kuliah, dia mendapatkan kesempatan emas menjadi asisten dosen dan berhasil mendapatkan beasiswa American Institute of Baking di Manhattan, Kansas, Amerika Serikat (AS). Di sana dia belajar berbagai macam makanan, seperti roti. Sepulang dari Negeri Paman Sam, kemahirannya di bidang kuliner semakin tajam. Kariernya di bidang pendidikan boga kian melejit, namanya pun semakin dikenal. "Jabatan saya banyak sekali, tetapi pada 1991 saya justru mengundurkan diri," imbuh dia.

Di saat kariernya sebagai civitas academica gemilang, dia justru memilih bekerja di sebuah majalah wanita sebagai manager non-redaksi. Dia pun terus berpetualang dengan berbagai profesi di industri boga. "Saya bekerja di pabrik makanan beku, sebagai manager development product. Saya memproduksi nugget dan dimsum, pada 1995-an," cerita dia.

Pada 1997, Sisca memasuki industri siaran televisi. Ada salah satu televisi swasta yang menawari dirinya untuk mengisi program Aroma. "Saya tidak grogi, karena saya sudah sering demo masak," ujarnya sambil terkekeh. "Pada 1999, saya mulai menerbitkan buku. Saya  sudah membuat 104 judul buku resep. 15 di antaranya dibeli Malaysia," tutur wanita yang memiliki suara yang khas.

Overview Profesi di Industri Boga

Menurut sang Ratu Boga, industri kuliner tidak akan ada matinya. Sampai kapanpun menurut dia, industri kuliner akan terus berkembang.

"Alasannya sederhana. Selama orang masih makan, selama metabolise itu ada, makan itu sangat penting. Orang hidup itu mencari varian, kita harus membuat apa-apa yang mengoda selera. Tolak ukurnya, kalau seseorang melihat makanan dia berkeinginan memakannya," ucap wanita yang mahir bermain piano ini.

Plus Minus

Menjadi pemasak, di mata Sisca memiliki peran yang sangat penting bagi kemajuan bangsa. Mengapa demikian? Sebab, produk makanan yang dibuat pemasak dikonsumsi. Sementara makanan itu menjadi hal yang fundamental dari kehidupan sesorang.  "Saya punya slogan cooking with love. Memasaklah dengan cinta, kepada siapa yang kau buat. Itu manfaat dan hasilnya sangat besar," dia mengimbuhkan.

Dia mengaku akan berada di tengah-tengah wanita Indonesia. Sebab, para wanita yang menyajikan masakan buat keluarga dan anak yang akan tumbuh menjadi generasi penerus.  "Jadi ketika semua dikerjakan dengan cinta, hasilnya akan baik," tegas wanita berusia 63 tahun ini.

Namun, belakangan ini profesi koki atau chef dipublikasikan bagaikan iklan yang menjual mimpi. Menurut Sisca, koki atau chef itu ada memiliki jenjang karier yang harus dirintis tidak dengan sembarangan. "Tidak bisa menjadi celebrity chef, kepentingannya apa? Mencari cantiknya? Jika seperti itu, maka waktunya tidak akan panjang, akan terputus dan tenggelam. Jadi harus mempelajari dunia boga dengan usaha," Sisca menyarankan.

Prospek Karier

Menjadi chef ternyata tidak, semudah membalikkan telapak tangan. Menurut Sisca, biasanya mahasiswa boga mengawali karier sebagai cook helper atau kitchen assistants yang membantu menyediakan bahan-bahan masakan. Berlanjut sebagai commis atau seperti kitchen assistants, namun posisinya lebih tinggi.

Setelah itu ada demi chef dan chef de partie, seperti supervisor yang mengawasi kerja anak buah sambil turun tangan bekerja dan ikut bertanggung jawab melapor ke atasannya. Ada pula sous chef yang bertanggung jawab pada resep-resep. Kemudian, executive chef yang bertanggung jawab pada semua urusan di dapur.

"Kalau sudah sampai tahap chef de cuisine, ini gajinya bisa sampai puluhan juta. Dan semua mengharapkan karier ini," ujar Sisca secara blakblakan.

Istilah chef de cuisine merupakan chef yang bertanggung jawab di satu lokasi dan beberapa cabang restoran meski tempatnya berbeda.

Mengikuti jenjang karier chef menurut Sisca merupakan hal yang penting. Sebab akan menghasilkan chef yang matang. "Tidak salah jika memulai karier dari bawah. Food helper lalu naik lagi ini membuat pengetahuan menjadi kuat. Kalau tidak maka tidak akan menjadi chef yang kuat," ujar Sisca.

{Tips and Trick} Menjadi Chef

Menjadi chef, lanjut Sisca, harus bisa membuat menu, menentukan harga yang pantas. Bukan sebatas orang yang memakai baju masak, atau hanya dalam sebuah acara.

Diperlukan pengalaman yang banyak, dan harus sering melakukan improvisasi dan inovasi. Selain memperdalam ilmu dasar boga, pelajarilah bahasa. "Sebab bahasa pengantar untuk semua, apapun itu. Bahasa adalah keharusan, bahasa itu penyambung," ujar Sisca. 

"Bagi mahasiswa boga, seriuslah belajar. Apa yang didapat di kampus itu akan menjadi peganganmu. Jangan setengah-setengah, sebab sesuatu hal yang dipaksakan hasilnya tidak baik," kata Sisca mengakhiri perbincangan.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini