Garap Film Dokumenter, Ucup Ketagihan Bikin Film

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Jum'at 07 Desember 2012 19:18 WIB
https: img.okezone.com content 2012 12 07 373 729123 eZ6shqagKn.jpg Foto : Andi Bachtiar Yusuf, sutradara film Romeo Juliet

JAKARTA - Gelar sarjana dalam bidang Ilmu Jurnalistik ternyata tidak menahan Andi Bachtiar Yusuf untuk menjadi wartawan. Tetapi profesi di bidang media jugalah yang dipilihnya, menjadi sutradara.

 

Ucup, demikian dia biasa disapa, dikenal sebagai sutradara film-film pendek dan dokumenter. Beberapa karya dokumenternya adalah The Jak (2007) dan The Conductors (2008) yang diterima di berbagai festival film dan penggila sepakbola di seluruh dunia. Sedangkan film fiksi pertama yang digarap Ucup adalah Romeo Juliet (2009). Film ini bercerita tentang kisah cinta terlarang antara bobotoh Persib Bandung dengan Jakmania, Persija.

Pria asli Jakarta, kelahiran 15 Januari 1974 ini memulai karier dalam dunia film pada 2003 dengan menggarap film-film pendek. Padahal, Ucup mengaku, tadinya tidak terbersit sedikit pun di benaknya bahwa dia akan menjadikan film sebagai sandaran profesi. Dia menggeluti dunia film semata-mata karena suka menonton film.

Keinginan Ucup untuk intensif di perfilman muncul ketika dia mengikuti satu program beasiswa di Berlin pada 2005. Selamasepuluh hari program, ternyata Ucup bertemu banyak orang yang ingin menjadi film maker. Ucup pun tergelitik.

"Saya merasa, mungkin ini yang saya inginkan, membuat film," Ucup, ketika berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Ketika program beasiswa itu berakhir, Ucup tetap tinggal di Berlin dan bekerja di berbagai perusahaan sambil belajar tentang industri film dan proses produksinya. Alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi(Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) ini akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia dan mulai mengerjakan proyek film dengan mengusung ide yang dia sukai.

Karena mengerjakan proyek sendiri itulah Ucup sering kali menghadapi kesulitan dalam proses produksi. The Jak, film dokumenter tentang kehidupan suporter fanatik klub bola Persija diselesaikan Ucup dalam waktu dua tahun. Bukan karena prosesnya yang rumit, tetapi lebih kepada minimnya dana yang dia miliki.

"Saya membiayai sendiri proyek itu. Kalau lagi enggak ada uang, saya berhenti kerja dulu, nabung, ngumpulin uang. Ketika ada uang, baru saya terusin bikin The Jak," tuturnya.

Bernaung di sebuah rumah produksi (PH) Bogalakon, Ucup kini bisa fokus pada pekerjaan sutradara karena sudah ada produser yang mengurusi detail proyek yang sedang digarapnya. Dulu, Ucup memang mengerjakan semuanya sendiri.

Ucup menyebut, setidaknya ada dua kategori sutradara, yakni "by hire" dan "by project". Sutradara by hire berarti si sutradara bisa dikontrak untuk mengerjakan proyek film milik orang lain. Misalnya, sutradara itu diberi ide cerita oleh sebuah PH dan diminta menyutradarainya. Sementara itu, sutradara by project biasanya mengerjakan proyek-proyek film sendiri. Ucup ada pada kategori kedua, bersama sutradara Joko Anwar.

Menjadi sutradara by hire atau by project adalah murni pilihan masing-masing orang. Tidak ada yang salah dalam kedua pilihan itu. "Saya memilih menjadi sutradara by proect karena bisa merealisasikan ide-ide sendiri dan mengontrol kreativitas saya layaknya seniman," imbuh Ucup. 

Diakui Ucup, pekerjaan seniman tidak lepas dari kemungkinan kesamaan ide. Menyikapi hal ini Ucup tidak ambil pusing sebab tidak mungkin suatu ide hanya dimiliki satu orang di dunia. Meski ide sama persis, kata Ucup, penggarapan setiap sutradara berbeda-beda, sesuai gaya masing-masing.

Ucup mengambil contoh film "Laskar Pelangi". Kita melihat versi yang disutradarai Riri Riza. Tapi jika Ucup atau Joko Anwar yang menggarap film itu, pasti hasilnya akan beda. Di tangan Joko, sebutnya, bisa jadi ada adegan pembunuhan. Sementara itu, Ucup mungkin akan membuat scene anak-anak Laskar Pelangi saling baku hantam.

"Sebenarnya kalau kita memiliki ide yang sama dengan orang lain, enggak usah khawatir. Paling membedakannya di penggarapan ide dan cara promosi," kata pria yang ingin membuat film bagus agar bisa masuk Hollywood itu.

Overview Profesi Sutradara

Jika dibandingkan dengan Hollywood, industri film di Indonesia masih belum matang dan terus berkembang. Selain pemain film, sutradara juga menjadi profesi yang asyik untuk digeluti. Berikut ulasan singkat tentang profesi sutradara.

Plus Minus

Bagi sutradara Andi Bachtiar Yusuf alias Ucup, menjadi sutradara adalah profesi yang asyik, terutama ketika kita bisa merealisasikan berbagai ide. Belum lagi kesempatan untuk menembus berbagai festival film di banyak negara.

"Selama menjalani profesi ini saya merasa paling asyik adalah ketika menggarap film Romeo Juliet karena ini adalah karya fiksi pertama saya," kata Ucup.

Salah satu ketidakasyikan menjadi sutradara adalah ketika menanti penyandang dana yang mau membiayai produksi filmnya. Biasanya ini dialami oleh para sutradara by project, yaitu mereka yang hanya menggarap ide-ide cerita sendiri.

"Kita bisa saja terpaksa menunda produksi dan akhirnya meminjam uang untuk meneruskan proyek," imbuhnya.

Tetapi kesulitan ini tidak dialami semua sutradara, tergantung bagaimana kita mau mengerjakan sebuah proyek. Jika bersikukuh ingin membuat film sesuai dengan yang apa yang kita inginkan, maka kita harus siap dengan risiko susahnya mencari dana.

Prospek

Meski demikian, Ucup yakin, prospek karier sebagai sutradara masih sangat cerah. Selain karena industri film di Indonesia masih berkembang, jumlah sutradara di Tanah Air juga masih sedikit.

"Film di Indonesia memang sudah banyak, tapi sebenarnya orang itu-itu saja yang menyutradarai film kita," kata Ucup.

Profesi ini juga diyakini Ucup sangat mampu menghidupi seseorang. Terutama bagi mereka yang tidak membatasi diri pada pengerjaan proyek sendiri. Sutradara-sutradara yang mengerjakan ide-ide orang lain akan dengan mudah mendapatkan uang.

Persiapan Menjadi Sutradara

Menjadi sutradara, sejatinya tidak hanya bermodalkan kemampuan menerjemahkan ide ke layar lebar. Menurut Ucup, seorang sutradara yang baik juga perlu berpikiran terbuka untuk menerima masukan orang lain, tidak lantas berpikir bahwa masukan tersebut adalah bentuk ketidaksukaan orang terhadap ide kita.

Hal yang paling penting, imbuhnya, adalah jangan terjebak pada zona nyaman. Ucup bercerita, dia memiliki teman yang dulu menceritakan sebuah ide gila untuk dibuat menjadi film. Tetapi kini sang teman sudah nyaman menjadi sutradara iklan karena lebih menghasilkan uang. Akhirnya, ide gilanya pun tidak tergarap sampai sekarang. 

"Seharusnya mental nyaman dan hitung-hitungan uang ini bisa dibuang. Sebagai seniman, kita harus gelisah terus menerus untuk terus bereksplorasi. Jika ini dilakukan, maka kita akan mampu membuat karya bagus yang diakui publik dan juga menghasilkan secara materi," tuturnya.

Faktor pendukung profesi sutradara tentu saja skill. Seorang sutradara harus selalu update dengan berbagai teknologi dan perkembangan zaman. Dengan begitu, kita bisa terus berbicara sesuai dengan era yang sedang berjalan. Jangan sampai karena kita sudah tua, maka kita tidak bisa menampilkan ide dengan bahasa yang dimengerti anak muda. Padahal, kalangan muda itulah yang menjadi pangsa pasar dunia perfilman. 

Update inilah yang selalu dilakukan oleh sutradara-sutradara Hollywood. Tidak heran, film-film mereka masih bisa masuk di kalangan muda meskipun umur mereka sudah lebih dari 60-an tahun.

Ucup berpesan, sebagai sutradara kita juga sebaiknya mengerjakan apa yang kita sukai. Jika tidak suka pada suatu aspek, jangan dipaksakan.

"Dengan mengerjakan apa yang kita suka, maka pikiran kita akan makin evolutif. Kalau mengerjakan yang enggak kita suka dan hanya mengikuti orang lain, kita juga enggak akan maju," imbuhnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini