DAMASKUS – Pemimpin oposisi Suriah Moaz al-Khatib, menolak undangan Pemerintah Rusia untuk melakukan pembicaraan damai. Penolakan tersebut semakin mempersulit upaya penyelesaian konflik yang telah terjadi di Suriah sejak Maret 2011 lalu.
Penolakan tersebut diumumkan oleh Khatib dalam wawancaranya dengan stasiun televise Al-Jazeera. Dalam kesempatan tersebut Khatib juga meminta Rusia untuk meminta maaf kepada warga Suriah karena selama ini mendukung rezim Bashar al-Assad.
“Saat ini Rusia selalu memberikan dukungannya kepada rezim Assad dan tidak mau mengakui kami sebagai perwaiklan yang sah dari warga Suriah. Jika kami bukan perwakilan warga Suriah kenapa Rusia repot-repot mengundang kami ke Moskow,” ujar Khatib dalam wawancara dengan Al Jazeera, seperti dikutip Reuters, Sabtu (29/12/2012).
“Kami juga minta Rusia meminta maaf karena mendukung Assad. Warga Suriah dibantai oleh rezim Assad, namun Rusia menganggapnya seperti acara piknik yang tidak perlu mendapat perhatian serius,” tambah Khatib.
Selama ini Rusia melupakan sekutu dekat dari keluarga Assad yang telah memimpin Suriah sejak 42 tahun yang lalu. Sebelum Bashar al-Assad diangkat menjadi presiden pada tahun 2000 silam, Suriah dipimpin oleh ayahnya, Hafez al-Assad, yang juga memimpin negara itu dengan tangan besi.
Banyak pihak mengharapkan Rusia mau menghentikan dukungannya kepada rezim Assad agar konflik dapat lebih cepat diselesaikan. Sepanjang konflik upaya dunia internasional untuk memberikan sanksi keras kepada rezim Assad menemui jalan buntu akibat perlindungan yang diberikan Rusia kepada rezim tersebut.
(Fajar Nugraha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.