WASHINGTON - Gedung Putih menepis laporan mengenai penggunaan senjata kimia yang dilakukan oleh pasukan Suriah terhadap fraksi oposisi. Meski demikian, AS mengatakan bahwa bila senjata kimia itu digunakan, Presiden Bashar al-Assad harus bertanggung jawab.
Menurut laporan dari Majalah Foreign Policy, AS menggelar penyelidikan rahasia di Suriah. Hasil penyelidikan itu menunjukan, pasukan Suriah menggunakan gas beracun untuk membunuh pasukan oposisi di Kota Homs pada 23 Desember 2012.
"Laporan yang kami dapat dari media mengenai senjata kimia Suriah tidak konsisten dengan fakta-fakta yang kami dapat," ujar juru bicara Gedung Putih Tommy Vietor, seperti dikutip RIA Novosti, Rabu (16/1/2013).
AS pun mengatakan, Assad tetap bertanggung jawab bila senjata-senjata kimia itu terbukti digunakan untuk membunuh oposisi Suriah. Komunitas internasional siap menindak Assad bila Assad gagal menjamin keamanan senjata tersebut.
"Bila rezim Assad membuat kesalahan yang tragis dengan menggunakan senjata kimia atau gagal mengamankannya, rezim itu akan dimintai pertanggung jawaban," imbuh Vietor.
Sejauh ini, Suriah diduga memiliki senjata kimia dalam jumlah yang cukup banyak, beberapa di antaranya adalah gas sarin, gas cekik dan gas mustard. Suriah pun dituduh mengembangkan senjata mematikan lainnya.
Menurut Dinas Intelijen AS (CIA), Suriah sudah menggelar program senjata kimia selama beberapa tahun. Senjata-senjata itupun digabungkan ke dalam misil balistik dan roket-roketnya. Suriah memang tidak pernah mengerahkan senjata-senjata itu, mereka sempat mengatakan bahwa senjata itu bisa digunakan untuk menyerang musuh dari luar negeri.
(Aulia Akbar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.