Harta yang paling berharga adalah keluarga..
Istana yang paling indah adalah keluarga..
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga..
Mutiara tiada tara adalah keluarga.. – Ost Keluarga Cemara
PENGGALAN lagu di atas adalah hal yang paling diingat dari sinetron "Keluarga Cemara". Sinetron yang diangkat dari novel Arsewondo Atmowiloto ini berjaya pada sekira tahun 90-an. Sinteron ini mampu menyedot banyak perhatian masyarakat karena pesan moralitas mengenai keluarga, menjadi daya jualnya.
Abah digambarkan sebagai kepala keluarga yang hangat, sabar dan penuh teladan bagi istri dan ketiga anaknya. Meski sering dijahati orang lain, Abah selalu sabar dan tabah. Emak yang bersifat mengayomi membuat kehangatan keluarga semakin terasa. Nilai sebuah keluarga yang lebih penting daripada sebuah kata hedonisme tercermin dengan tampak natural.
Jikalau kita ingin memahami arti sebuah keluarga lebih dalam lagi, adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI 1998). Keadaan ketergantungan dalam arti ini dapat kita maknai dengan adanya hubungan timbal balik dan rasa saling memiliki antara satu dengan yang lainnya.
Berangkat dari hal tersebut, kita menyadari bahwa setiap keluarga memiliki caranya masing-masing untuk mewujudkan arti keluarga yang sesungguhnya. Mungkin karena Indonesia memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda, maka berbeda pula cara mewujudkan dan merefleksikan arti sebuah keluarga.
Suku Dani merupakan salah satu suku di Papua yang merefleksikan keluarga sebagai sesuatu yang berharga. Hal ini terlihat dari praktik budaya yang kerap kali mereka lakukan ketika dalam keadaan berduka. Tradisi potong jari merupakan bentuk rasa kehilangan dari seorang anggota keluarga yang pada umumnya dilakukan oleh wanita. Tradisi ini diartikan sebagai tindakan untuk mencegah kembali terenggutnya nyawa keluarga.
Berfilosofikan jari-jari, Suku Dani mengartikan bahwa jari merupakan lima hal yang berbeda (terlihat dari bentuk fisik setiap jari) yang apabila disatukan akan menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan pekerjaan. Kehilangan salah satu ruasnya saja, bisa mengakibatkan tidak maksimalnya tangan kita bekerja. Jadi jika salah satu bagiannya menghilang, maka hilanglah komponen kebersamaan dan berkuranglah kekuatan dalam keluarga.
Belum lagi ungkapan “Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik” atau pedoman dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu marga, satu honai (rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, satu sejarah/asal-muasal, dan sebagainya yang dijadikan pegangan kuat bagi masyarakat pegunungan tengah Papua. Namun demikian, tradisi pemotongan jari sudah mulai ditinggalkan. Hal ini seiring dengan penyebaran agama di daerah Wamena.
Dari Papua kita beranjak ke arah barat, Toraja. Di daerah Baruppu tepatnya di daerah Rinding Allo Toraja Utara dikenal suatu ritual Ma’ Nene’. Upacara Ma’ Nene’ yang biasa dilakukan pada bulan Agustus ini dilakukan dengan mengganti pakaian jenazah oleh keluarga yang masih hidup. Ma’ Nene’ diartikan sebagai wujud rasa cinta keluarga yang masih hidup kepada keluarga yang meninggal.
Dan masih banyak lagi tradisi dan budaya yang dilakukan demi mengartikan berharganya sebuah keluarga. Bukan memotong jarinya yang harus kita lakukan dan bukan mengganti pakaian jenazahnya yang harus kita praktikkan, yang seharusnya menjadi perhatian kita adalah ketika passion untuk menunjukkan rasa memiliki keluarga menjadi sebuah harga mati walaupun sampai ajal menjemput.
Di atas semuanya, rasa saling ketergantungan, rasa memiliki, rasa menyayangi terhadap keluarga hendaklah lebih baik jika dilakukan semasa keluarga kita hidup. Hal tersebut juga telah diungkapkan oleh salah satu lirik lagu dari suku batak “So marlapatan marende, margondang, marembas hamu molo dung mate au. So marlapatan na uli, na denggan patupaonmu molo dung mate au”, yang berartikan, tiada gunanya lagi ketika seorang keluarga melakukan hal yang baik sesudah keluarganya meninggal.
Mahkota setiap orang-orang tua adalah anak cucu, dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka. Setiap anggota keluarga adalah sama berharganya bagi setiap anggota keluarga lainnya. Anak berharga di mata orangtua dan orangtua berharga di mata seorang anak. Untuk itu, Teman, keutuhan sebuah keluarga bukan lagi hanya tanggung jawab orangtua ataupun hanya tanggung jawab seorang anak melainkan menjadi tanggung jawab bersama.
LB Ciputri Hutabarat
Mahasiswi Jurusan Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Universitas Padjadjaran
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.