Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Dibawah Cahaya Remang-Remang Pijat Payung

K. Yudha Wirakusuma , Jurnalis-Selasa, 06 Agustus 2013 |09:29 WIB
Dibawah Cahaya Remang-Remang Pijat Payung
Ilustrasi (Okezone)
A
A
A

SEORANG wanita dengan balsem di tangannya duduk di pinggir jalan, Pasar Klitikan, Banjar Sari, Solo, Jawa Tengah. Sesekali dia melihat ke kanan dan ke kiri, seorang pengendara motor yang menghampirinya.

"Pijat berapa," kata seorang pria dengan menggunakan bahasa Jawa.

Wanita dengan gincu tebal ini lantas berdiri dan menghampiri pria tersebut. "Rp45 ribu sudah dengan semuanya. Dari atas sampai bawah, sampai lemas," ucapnya diakhiri dengan kedipan mata.

Pria tersebut pun, kemudian masuk ke dalam bilik yang berukuran 2X3 meter. Di dalam ruangan yang tak beratap tersebut, terdapat minyak kelapa, uang koin dan pelembab kulit. Selang satu jam kemudian mereka berdua keluar dari bilik tersebut. "Laris-laris," kata Narti (42).

Kendati masih di bulan suci Ramadan, namun Narti tetap bekerja sebagai pemijat plus-plus, atau yang lebih dikenal sebagai pijat payung. "Saya terpaksa mas, enggak ada pekerjaan lainnya," lirihnya saat ditemui Okezone, Senin 5 Agustus kemarin.

Selama bulan suci Ramadan, Narti mengaku tidak mengurangi jam operasionalnya. "Dari pukul 19.00 WIB, hingga pukul 01.00 WIB," akunya.

Pantauan Okezone, ada belasan bilik yang berdiri di sepanjang MT Haryono ini, dengan cahaya remang-remang. Di dekat bilik tersebut, juga terdapat beberapa pria yang mengawasi hiruk-pikuk, pasar tersebut.
 
Sementara salah seorang pelanggan setia pijat payung, Sunarto mengaku mendapatkan diskon khusus, saat menggunakan jasa Narti. "Oh ia, saya kenal, saya kalau disitu cuma bayar Rp25 ribu," ucapnya.

Sunarto yang bekerja sebagai tukang becak dan kerap mangkal di dekat Pasar Maling, sebutan lain dari Pasar Klitikan ini cukup menikmati servisan Narti. Namun sayang, Sunarto mengaku tidak mengetahui banyak soal asal usul berdirinya pijit payung ini. "Saya enggak tahu mas," tukasnya sambil berlalu.

Bulan suci Ramadan, tampaknya tidak menjadi penghalang, bagi bisnis esek-esek kelas bawah ini untuk beroperasi. Kesulitan ekonomi, kembali menjadi kambing hitam menjamurnya bisnis lendir di kawasan ini.

(Rizka Diputra)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement