ACEH BARAT - Sembilan tahun sudah bencana gempa dan tsunami berlalu, namun jejaknya masih terekam di Desa Padang Seurahet, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Aceh. Desa ini merupakan lokasi terparah saat tsunami terjadi karena posisinya yang berada tepat di bibir pantai.
Pada Minggu 26 Desember 2004, pemukiman di sana hilang disapu gelombang maha dahsyat yang datang pada pagi hari. Hanya satu bangunan masjid dan satu rumah warga yang masih berdiri kokoh sebagai saksi hilangnya ratusan nyawa.
Dinding sebelah timur Masjid Baitul Atik terlihat jebol dan terdapat retakan di sejumlah titik. Warga sengaja tidak merenovasi agar menjadi bukti dahsyatnya bencana alam itu. Meski kondisinya terlihat porak-poranda, warga tetap menunaikan ibadah di masjid yang kini letaknya haya satu meter dari bibir pantai.
Kampung Padang Seurahet sendiri sekarang hanya tinggal nama. Sebagian rumah penduduk hilang ditelan gelombang setinggi sembilan meter tersebut, yang tersisa saat ini hanya puing-puing bangunan di daratan.
Seorang warga, M Neldi, menjelaskan, sekira 800 kepala keluarga yang berhasil menyelamatkan diri kini menetap di pemukiman baru yang letaknya jauh dari bibir pantai di Desa Blang Berandang. “Sebelum tsunami datang, ada sekira 1.500 kepala keluarga yang menetap di desa ini,” ujar Neldi.
Tsunami di Aceh merupakan bencana alam terbesar di dunia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Lebih dari 230.000 nyawa melayang dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal. Selain menghantam Aceh, gelombang tsunami juga menyasar wilayah lain di dunia, seperti Sri Lanka, India, dan Thailand.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.