Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cacing Tanah Angkat Taraf Hidup Warga

Rifa Nadia Nurfuadah , Jurnalis-Selasa, 11 Februari 2014 |12:19 WIB
Cacing Tanah Angkat Taraf Hidup Warga
Mahasiswa UB membuat budi daya cacing tanah sebagai program pemberdayaan masyarakat. (Foto: dok. UB)
A
A
A

JAKARTA - Ide pemberdayaan masyarakat bisa datang dari mana saja. Bahkan, cacing tanah pun bisa menjadi sumber meningkatnya taraf hidup masyarakat.

Meski banyak yang jijik dengan cacing tanah, hewan bernama latin Lumbriculus sp. ini sebenarnya kaya manfaat. Cacing tanah bisa kita gunakan sebagai pakan ternak, sumber protein hewani, bahan baku kosmetika, obat-obatan ataupun pakan ikan. Tidak hanya itu, nilai ekonomi cacing tanah juga cukup tinggi karena pakannya cukup dari limbah organik.

Melihat aneka manfaat tersebut, lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berinovasi untuk membudidayakan cacing tanah. Bahkan, kelimanya merancang usaha budidaya cacing tanah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di Kelurahan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur. 

Ilya Ramadhania (Teknik Industri/2012), Harry Kurniawan (Teknik Industri/2010), Erliya Yunita (Teknik Industri/2012), Intan (FPIK/2012) dan Deni (FPt/2010) menuangkan inovasi mereka dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat (PKMM) berjudul "GLOW (Green Lab of Worm): Pemanfaatan Potensi Lokal Sebagai Pembentukan Entrepreneurship Berbasis Green Environment di Kelurahan Kedungkandang RT 07 RW 03 Kota Malang".

Menurut Ilya, dia dan timnya ini menelurkan ide budidaya cacing tanah karena melihat banyak warga usia produktif di Kedungkandang menganggur. Sementara itu, warga yang bekerja kebanyakan mendapat gaji di bawah upah minimum regional (UMR).

"Kalaupun bekerja, mayoritas digaji di bawah UMR," kata Ilya, seperti dilansir laman berita UB, Prasetya Online, Selasa (11/2/2014).

Selain tingkat perekonomian yang minim, tingkat pendidikan mereka juga rendah. Hanya beberapa warga yang mengenyam pendidkan tinggi, itu pun pendatang, bukan warga asli.

"Budidaya cacing tanah diharapkan bisa menjadi sarana wirausaha atau minimal meningkatkan pendapatan sampingan," imbuhnya.

Menurut Harry, pemilihan Kedungkandang juga didasari keberadaan lahan kosong yang cukup melimpah dan tidak terpakai. Lahan-lahan bertanah lembab itu cocok untuk pembudidayaan cacing tanah.

Di bawah bimbingan Ari Wahyudi, ST, MT, lima sekawan itu menggandeng Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kedungkandang dalam kegiatan budidaya cacing tanah tersebut. Mereka mengunakan medium berbagai bahan organik seperti log jamur (serbuk kayu), sludge ataupun limbah pasar. 

"Harga bibit cacing tanah remaja sekira Rp50 ribu per kilogram. Setelah dipanen tiga bulan kemudian, cacing tanah dewasa dapat dijual dengan harga Rp50 ribu/kg. Panen juga bisa dilakukan sebelum tiga bulan, walaupun ukuran cacing relatif lebih kecil," kata Harry.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement