JAKARTA - Setiap acara debat, pasti ada yang namanya pro dan kontra. Kedua belah pihak mengusung visi dan misi mereka serta mempresentasikan sebuah studi kasus berdasarkan pendirian mereka.
Hal tersebut merupakan acara kompetisi debat nasional yang diselenggrakan oleh HMPS Manajemen Perbanas Institute, yaitu Perbanas Marketing Debate Competition (PMDC) 2014. Sebanyak 27 tim dari 17 universitas di Indonesia diadu sesuai dengan temanya, yakni "On Becoming a Smart Marketer In The Smart Digital Era".
Salah satunya yaitu Tim Pro dari Universitas Indonesia (UI) 3 yang terdiri dari tiga orang, yaitu Albert Santoso, Andrearto Saleh Perdana, dan Opi Aristya. Sedangkan Tim Kontra dari Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Jakarta 1 yang juga terdiri dari tiga orang, yaitu Anis Suryani, Rakhmat Hidayat, dan Dede Firmansyah.
Kedua tim tersebut berdebat mengenai "Penggunaan Sosial Media Sangat Berdampak Pada Peningkatan Loyalitas Pelanggan". Selama perdebatan berlangsung, mereka diberikan kesempatan dalam waktu yang cukup singkat, yaitu hanya empat menit per orang.
Salah satu dari Tim Pro UI 3, Andrearto Saleh Perdana menjelaskan mengenai tema yang diperdebatkan. Kata Andre, mereka menganalisa parameter pelanggan yang loyalitas. Dari parameter tersebut, pelanggan akan tahu brand-nya melalui sosial media.
"Kita membawa bagaimana caranya sosial media dapat memberikan ruang kepada customer dari sebuah perusahaan. Kemudian, akan ada feed back inovasi dari jasa perusahaan tersebut," ujarnya saat berbincang dengan Okezone, di sela-sela acara PMDC di Ruang Auditorium Unit III, Perbanas Institute, Jakarta Selatan, Rabu (25/6/2014).
Andre melanjutkan, dengan adanya sosial media, pelanggan akan membeli produk tersebut. Cara ini menjadi efektif karena sosial media sudah begitu banyak jutaan orang yang menggunakan.
"Contohnya seperti di twitter, banyak perusahaan-perusahaan yang melakukan diskusi dua arah melalui sosial media. Bahasanya pun juga enggak terlalu formal banget dalam diskusinya," ucapnya.
Andre memberikan contoh layaknya perusahaan laptop. Jika perusahaan tersebut melakukan promo, forum, atau diskusi ini dilakukan agar pelanggan lebih mudah tanpa harus bertatap muka, sedangkan dari tim kontra lebih mengedepankan tatap muka.
Selain itu, menurut salah satu Tim Kontra dari APP Jakarta 1, Anis Suryani sudah jelas berbeda pendapat. Menurut Anis, sejauh ini belum ada parameter sosial media untuk meningkatkan loyalitas pelanggannya. Karena pelanggan loyalitas setia, sedangkan jika dari sosial media, pelanggan mengklik semua akun yang belum tentu pelanggan tersebut loyalitas.
"Siapa tahu mereka cuma mencari informasi saja. Membangun sebuah loyalitas itu susah, apalagi perusahaan yang berbagai macam karakteristik," tegasnya.
Anis melanjutkan, karakter pelanggan di Indonesia merupakan tipe senang dilayani, sehingga tidak semua orang mengerti sosial media. Seperti ada persepsi yang lain, ada hal-hal yang bisa digantikan dari sosial media.
"Contohnya yaitu asuransi, mereka lebih banyak ada agent-agent karena layanannya sangat dihargai. Jadi, perusahaan tidak melulu memberikan brand dari sosial media, tapi ada pelayanannya," ungkapnya.
Dia menambahkan, loyalitas lebih tinggi dari awareness. Jadi, belum tentu pelanggan loyalitas, karena untuk menerapkan pelanggan yang loyalitas susah.
"Contoh lainnya yaitu Apple yang pelanggannya paling setia, karena brandnya lebih inovasi dan paling canggih, layanan bisa pakai sosial media tapi terbatas, tapi tidak semua orang bisa, karena terbatas oleh internet. Pelanggan loyalitas bukan dari sosial medianya, loyalitas setia pada produk, kalau sosial media tidak setia, karena tidak hanya satu produk saja," pungkasnya.
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.