NAYPYIDAW - Myanmar mulai merasakan fenomena iklim El Nino. Negara yang sebelumnya bernama Burma itu kini mengalami perubahan iklim abnormal.
"Wilayah pusat Myanmar jarang mengalami intensitas hujan rendah. Hujan bahkan jarang turun," kata Wakil Direktur Jenderal Departemen Metereologi dan Hidrologi Myanmar, Kyaw Moe Oo, seperti dikutip dari Asia News Network, Senin (15/6/2015).
"Awan hujan besar yang belakangan ini menutupi Bangladesh malah bergerak ke India, bukannya ke arah Myanmar. Maka itu, sekarang hujan turun deras di India sementara Myanmar hanya mendapat sedikit hujan," jelas Kyaw.
Kyaw menjelaskan, kondisi iklim yang tidak biasa tersebut merupakan fenomena El Nino yang melanda tahun ini. Sebagai dampak efek El Nino, cuaca terasa amat panas ketika hujan tidak turun.
"Beberapa hari belakangan musim hujannya sangat lemah. Sungguh tidak biasa, wilayah seperti Yangon dan Ayeyarwady mendapat intensitas hujan lebih besar daripada negara bagian lainnya seperti Mon dan Kayin," kata Kyaw menambahkan.
Gejala El Nino berupa berkurangnya curah hujan, panas yang berkepanjangan, dan turunnya hujan lebat yang tidak menentu. Fenomena iklim ini dengan jarak waktu yang tidak beraturan, antara dua hingga tujuh tahun.
Sebelumnya, Myanmar mengalami kondisi cuaca yang tidak biasa secara berturut-turut pada 2009 dan 2010. Akibatnya, terjadi temperatur cuata yang amat ekstrem, berkurangnya debit air sungai, kekurangan air, timbulnya masalah kesehatan, bahkan menyebabkan kematian.
(Pamela Sarnia)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.