Nama mani gajah awalnya diperoleh dari Sangiran. Keyakinan itu diperkuat setelah diteliti oleh ahli geologi bernama Budi.
"Menurut Pak Budi, batu di sini umurnya sudah ribuan tahun, sejak pada zaman es. Katanya, perkawinan mani gajah itu pada tempat-tempat tertentu, tempatnya di sini. Maninya tercecer di sini dan dikubur. Setelah ribuan tahun akhirnya menjadi kristal seperti ini," ucap Suwarno sambil menunjukkan batu mani gajah.
Sementara Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia (BPSMP) Sangiran, Sukronedi, justru membantah bahwa jenis batuan yang ditemukan di Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, adalah mani gajah purba. Batu yang digali warga dinilai sebagai hasil proses pembentukan mineral batuan secara alamiah.
"Jenis batuan yang ditemukan itu juga banyak sekali ditemukan di kawasan Situs Purba Sangiran atau yang dinamakan Kubah Sangiran. Menurut saya, itu sebenarnya bukan mani gajah purba tapi memang masyarakat sering menyebut sebagai mani gajah. Kalau maninya seperti itu, terus gajahnya seperti apa," ujarnya.
(Abu Sahma Pane)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.