“Iya, dulu Maeda tak punya mesin tik huruf latin. Jadi Myoshi pun pergi ke kantor AL Jerman untuk meminjam mesin tik dari sana,” ungkap Jaka Perbawa, kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi kepada Okezone.
Diketiklah teks proklamasi dari tulisan tangan Soekarno oleh Mohamad Ibnoe Sajoeti Melik dengan ditemani Boerhanoeddin Mohammad Diah. Beberapa kata di teks tulisan tangan sempat disunting, di mana kata ‘tempoh’ diubah jadi ‘tempo’, lantas ‘wakil-wakil bangsa Indonesia’ menjadi ‘atas nama bangsa Indonesia’ dan penulisan ‘17-8-05’ diubah jadi ‘hari 17 boelan 8 tahoen 05’.
Ada satu peristiwa yang di kemudian hari jadi momen yang sangat berharga, di mana setelah teks ketikan selesai, teks tulisan tangan Soekarno nyaris terbuang dan hilang ditelan bumi.
“Selesai mengetik, Sajoeti Melik meremas-remas tulisan tangan Soekarno karena merasa sudah tidak diperlukan lagi. Tapi BM Diah memungut itu dan kemudian, memperbanyaknya lewat beberapa temannya yang punya percetakan,” tambah Jaka.