Banyak orang melakukan jalan pintas guna meraih kekayaan dalam waktu singkat. Di Indonesia, cara berbau mistis itu dikenal dengan istilah pesugihan. Mereka yang dirundung kesulitan keuangan atau terbelit utang, biasanya mengambil jalan ini meski harus mengorbankan tumbal.
Ritual untuk mendapat kekayaan itu banyak macamnya. Mulai mendatangi tempat-tempat keramat maupun mengambil tuah dari benda atau hewan. Berikut ritual pesugihan yang masih ditemukan pada masyarakat Indonesia di zaman sekarang seperti dikutip dari laman boombastis.com.
Pesugihan Nyi Roro Kidul
Ritual pesugihan yang pertama yakni pesugihan dengan perantara bantuan Nyi Roro Kidul. Pesugihan diyakini dapat memberi kekayaan kepada si empunya hajat. Namun, pengaruh pesugihan ini hanya mampu bertahan sekira tujuh tahun hingga perlahan-lahan hartanya itu ludes. Pesugihan ini memiliki syarat yang cukup ngeri didengar, yaitu harus dengan berhubungan badan dengan Nyi Roro Kidul pada malam-malam yang ditentukan.
Konon, usai berhubungan badan, Nyi Roro Kidul yang berwujud asli ular naga itu akan merontokkan sisik emasnya. Emas itulah yang katanya dapat membuat si pelaku kaya raya. Jika kelak hartanya habis, si pelaku ritual pesugihan bisa meminta satu periode lagi namun syaratnya lebih berat yaitu harus memberikan tumbal berupa nyawa orang lain.
Pesugihan Gunung Kawi
Gunung Kawi terletak di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Konon, bagi siapa saja yang mau melakukan ritual di gunung tersebut dengan ikhlas, pasrah disertai dengan pengharapan yang tinggi maka permintaannya akan terkabul, termasuk ingin kaya raya. Banyak orang meyakini pesugihan Gunung Kawi sangat manjur dilakoni oleh mereka yang ingin kaya mendadak.
Di sana, terdapat dua makam yang dikeramatkan masyarakat yaitu makam Kiai Kanjeng Zakaria II dari kerabat keraton Kartosuro dan Raden Mas Imam Soedjono dari kerabat keraton Yogyakarta. Banyak orang percaya jika menziarahi makam kedua tokoh itu dengan berbagai ritual tertentu, maka akan mendatangkan kekayaan dalam waktu relatif singkat.
Pesugihan Gunung Kemukus
Selain Gunung Kawi, Gunung Kemukus di Sragen, Jawa Tengah juga dipercaya banyak orang dapat memberikan keberuntungan dan kekayaan. Ritual pesugihan ini terbilang unik lantaran melibatkan tindakan berhubungan badan layaknya suami istri dengan seseorang yang bukan pasangannya.
Gunung ini menurut legenda merupakan tempat pelarian Pangeran Samodra dari Majapahit bersama kekasihnya yang juga ibu tirinya yaitu Nyai Ontrowulan. Ritual persetubuhan inilah yang konon bertujuan untuk mengenang cinta terlarang kedua insan tersebut.
Pesugihan Monyet
Pesugihan monyet sangat terkenal di Ngujang, Tulungagung, Jawa Timur. Caranya, pelaku pesugihan ini harus menyediakan tumbal nyawa kepada makhluk gaib di makam Ngujang hingga ia meninggal dunia. Usai melakoni ritual, pelaku akan mendapatkan monyet untuk ia pelihara.
Nah, monyet inilah yang konon dapat membantu pelaku atau tuannya seketika menjadi kaya. Namun, jika si pelaku pesugihan ini kelak wafat, maka dirinya harus bersedia tinggal di makam Ngujang bersama monyet-monyet di sana.
Pesugihan Siluman Kura-Kura
Pesugihan siluman kura-kura terdapat di Jimbung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Di sana ada sebuah kolam keramat yang dipercaya dihuni dua ekor siluman kura-kura. Konon dua ekor kura-kura itu dulunya adalah sepasang manusia yaitu Kiai Poleng dan Nyai Poleng.
Kedua kura-kura itu dipercaya dapat mengabulkan keinginan mereka yang mendambakan harta kekayaan melimpah. Pelaku ritual yang permohonannya untuk kaya dikabulkan, maka di tubuhnya akan muncul bercak putih.
Bercak putih itu lama-lama akan meluas seiring bertambahnya kekayaan si empunya hajat. Ironisnya, jika seluruh tubuh pelaku telah putih maka ia akan meninggal dunia.
Pesugihan Tuyul
Tuyul kerap dijadikan sebagai pelayan untuk mencuri uang bagi tuannya. Namun, untuk memelihara makhluk halus berkepala pelontos ini, istri atau wanita di dalam rumah si pelaku pesugihan ini harus rela menyusui tuyul itu seperti anaknya sendiri.
Nah, uniknya, jika suatu waktu tuyul itu tertangkap dan dihakimi warga, maka yang merasakan sakit bukanlah si tuyul melainkan majikannya sendiri. Begitupun jika pukulan itu hingga menyebabkan luka memar. Maka bekasnya akan terlihat pada tubuh si majikannya itu.
(Syukri Rahmatullah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.