Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Nyadran, Ritual Wajib Jelang Ramadan

Agregasi Kedaulatan Rakyat , Jurnalis-Selasa, 31 Mei 2016 |15:30 WIB
<i>Nyadran</i>, Ritual Wajib Jelang Ramadan
Ilustrasi
A
A
A

YOGYAKARTA - Menjelang bulan ramadan, masyarakat khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah menggelar tradisi yang disebut Sadranan atau Nyadran. Tradisi yang turun temurun dari leluhur ini masih terus dilestarikan hingga saat ini.

Seperti dikutip dari Wikipedia, Nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran sendiri diartikan sebagai tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan.

Sementara dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah syakban. Nyadran dalam budaya Jawa berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur.

Nyadran biasanya dilaksanakan setiap hari ke-10 bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya'ban. Dalam ziarah kubur, biasanya peziarah membawa bunga, terutama bunga telasih. Bunga telasih digunakan sebagai lambang adanya hubungan yang akrab antara peziarah dengan arwah yang diziarahi.

Warga yang mengikuti Nyadran biasanya berdoa untuk keluarganya yang telah meninggal. Seusai berdoa, warga menggelar kenduri atau makan bersama di sepanjang jalan atau di kompleks makam.

Pada beberapa daerah, makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, perkedel, serta tempe dan tahu bacem. Di Yogyakarta, Nyadran saat ini dikemas menjadi event wisata budaya, seperti tradisi Sadranan di Makam Sewu, Pajangan Bantul.

Sumber lain menyebutkan Sadranan adalah hasil kreasi dari Walisongo sejak abad ke-15 yang menggabungkan tradisi dengan dakwah, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima masyarakat saat itu.

Pada awalnya, para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agam Islam dinilai musrik. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan doa.

(Fransiskus Dasa Saputra)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement