BANDUNG - Sepi pembeli. Itulah kondisi yang dirasakan para pedagang oleh-oleh makanan di jalur Nagreg, Kabupaten Bandung. Meski Nagreg merupakan jalur strategis yang dilintasi pemudik, hal itu tidak berbanding lurus dengan penjualan mereka.
Hal itu dirasakan sejak Lingkar Nagreg dioperasikan pada 2012. Jalan yang semula dua jalur difungsikan menjadi satu jalur. Itu karena kendaraan dari arah timur menuju barat dialihkan ke Lingkar Nagreg.
Kawasan Nagreg sendiri dikenal dengan berbagai oleh-oleh khas Jawa Barat mulai dari kerupuk melarat, opak, serta berbagai macam kue dan makanan ringan lainnya.
Ade, perempuan berusia 50 tahun, merasakan betul dampak adanya Lingkar Nagreg. Ia tidak lagi merasakan omzet seperti dulu di mana dalam sehari saat masa arus mudik dan balik bisa ada ratusan orang yang membeli dagangannya.
"Sekarang mah boro-boro. Jangankan hari biasa, arus mudik seperti sekarang saja sepi," kata Ade saat ditemui di kios tempatnya berjualan, Senin (4/7/2016).
Dalam sehari, ia mengaku sangat sulit mendapatkan pembeli. Jumlah 10 orang yang membeli dagangannya dalam sehari bisa dikatakan banyak. Padahal dulu, sebelum ada Lingkar Nagreg, 10 pembeli saat arus mudik bisa dikatakan sangat sedikit.
"Dulu mah sebelum ada Lingkar Nagreg, usaha ini saja sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sekarang mah enggak bisa diandalkan. Suami harus punya usaha lain, mau itu jadi kuli atau apa," tuturnya.
Ia bahkan mengatakan jika dalam sehari bisa mendapatkan omzet Rp500.000, hal itu terasa sangat besar. "Rp500.000 teh kerasanya kayak berjuta-juta," cetusnya.
Secara pribadi, ia mengaku ingin jalur Nagreg kembali dua jalur seperti dulu. Tapi itu hanya sekedar keinginannya yang akan sulit diwujudkan. Hal itu karena Lingkar Nagreg sudah terlanjur dibangun dan digunakan sejak beberapa tahun terakhir.
"Ya harapannya inginnya dua jalur lagi, biar usaha di sini ramai lagi. Tapi mau bagaimana lagi," ucap Ade.
Kondisi Jalan Raya Nagreg yang menjadi satu jalur menurutnya sangat berdampak pada arus lalu lintas yang menjadi lebih lancar. Bahkan Nagreg kini menjadi jalur cepat.
"Mungkin karena sekarang jalur cepat, jadi pemudik juga kagok (tanggung) kalau mau berhenti beli oleh-oleh," ujarnya.
Bahkan karena jalan menjadi satu jalur, banyak pedagang yang gulung tikar, terutama yang posisi tempat jualannya ada di sebelah kanan jalan.
"Banyak yang sekarang sudah enggak jualan oleh-oleh lagi dan milih kerja serabutan. Padahal dulu pemasukan dari jualan lumayan," paparnya.
Ike (43) juga mengungkap betapa sulitnya usaha berjualan oleh-oleh makanan di Nagreg. Sekarang ia sudah menjadi buruh serabutan. Padahal dulu ia berjualan oleh-oleh dengan omzet lumayan.
"Sekarang mah kerja serabutan apa saja. Yang penting kerja," ungkapnya.
Meski begitu, para pedagang masih merajut asa dan mencari rezeki dengan berdagang oleh-oleh. Sebab mereka yakin rezeki bisa datang jika dijemput dengan cara berdagang. Di sisi lain, suami mereka pun berusaha menjemput rezeki dengan berbagai cara.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.